Kejujuran adalah jalan terbaik untuk menuntaskan segala masalah yang ada –Penulis–
***
Menelusuri kepingan masa lalu, adalah hal biasa bagi semua orang. Namun tidak bagiku. Ini adalah sesuatu hal yang amat sangat luar biasa. Aku adalah seseorang yang tak terbiasa untuk terbuka tentang masa lalu. Aku pikir masa lalu tak perlu diingat, karena hanya akan menghambat perjalanan waktu yang terus berkejaran, tak pernah berhenti.
***
Hari ini tepat 3 tahun perpisahanku dengan teman-teman sekelasku semenjak SMA. Dan hari ini pula kami berencana akan mengadakan reuni. Tujuannya semata-mata untuk menjaga tali silaturahmi diantara kami yang sempat diputuskan oleh jarak.
Aku senang, namun juga takut. Aku harus siap mental menghadapi reuni ini. Karena aku diharuskan untuk menghadapi masa lalu, yang ingin ku lupakan.
***
Tak banyak waktuku
Tak banyak sisa umurku
Aku hanya ingin melakukan yang terbaik
Namun hanya sisa pesan terakhir ini yang dapat kusampaikan
Sesuatu hal yang tak mungkin di dapatkan di hari nanti
Ini sebuah pengakuan
Pengakuan kecil yang ada diantara kita
Hanya kita
Ku harap tak ‘kan ada yang tahu
Karena ini masalah hati yang terlalu lama menunggu
-Alyssa Saufika Umari-
***
“Hai Ify.. Kamu yang pertama datang?” dia tiba dihadapanku, sambil tersenyum ramah. Aku mengangguk meng-iyakan pertanyaannya. Dia mengangguk kecil lalu menggeret kursi yang ada didepan mejaku. Duduk tepat diseberangku. Sepersekian detik dia menatapku, entah apa yang ada dipikirannya.
“Ternyata kamu masih sama yah” Aku pikir yang terlontar barusan lebih mirip sebuah pertanyaan yang dinyatakan tanpa ada intonasi bertanya.
“Tak pernah sedikit pun. Aku masih yang dulu, teman masa SD, SMP, dan SMA-mu” ujarku singkat. Menatapnya sebentar lalu mulai menekuni album foto yang memang aku bawa.
“Setidaknya saat masih SD, kamu adalah gadis yang ceria” katanya lagi, hal itu memaksaku untuk menatap wajahnya yang masih tak berubah. Berkulit kuning langsat, dan memiliki 2 mata tajam. Namun bagiku, mata itu sangat indah. Membuatku terbuai oleh keteduhan yang dipancarkannya.
“Kamu gak sadar ya? Sejak SMP kamu berubah” dia terdiam sambil menatapku dalam, seolah membaca jalanin cerita masa-masa remaja kami. Aku gugup dibuatnya, tak pernah sekali pun dia menatapku seperti ini.
“Jadi intinya, Menurut kamu aku berubah? Dasar plinplan” tanyaku cepat sambil berdesis seolah tidak meyukai perkataan terakhirnya. Tapi sesungguhnya aku begitu terpukau dengan pernyataan itu.
“Yah, tak semuanya berubah. Kamu masih gadis kecil cengeng yang ku kenal” jawabnya tenang. Aku terdiam dan menundukkan kepala. Tak ingin lagi menatap matanya, yang bisa saja membuatku terhipnotis.
Diam, dia tak melanjutkan perkataannya. Sejenak aku memikirkan hal gila, bahwa aku akan membuat sebuah pengakuan yang mungkin akan melepaskan segala perasaan ini. Apa mungkin aku sanggup?
“Masih ingat saat pertama kali aku dan kamu bertemu?” Tanyanya kemudian. Pertanyaan simple itu malah membuatku ingin berkoar-koar bahwa aku tak akan pernah melupakan bagaimana sosok Rio kecil yang membuatku jatuh cinta.
“Seorang murid baru yang kabarnya baru sembuh dari typhus” ujarnya seolah pada diri sendiri. Aku tau yang dimaksudkannya adalah aku. Dia masih mengingatnya ternyata. Bagaimana bisa, tuan muda sombong ini mengingat hal sekecil itu. Aku tak yakin dengan apa yang baru saja ku dengar.
“Dan aku harus terkena sial, karena duduk sebangku denganmu. Tuan muda, sombong dan pelit” desisku mengejek. Dia hanya tertawa. “Tapi harus kuakui Kamu menawan” tambahku pelan. Sontak dia terkaget.
“Mas.. Mbak.. mau pesen apa?” tawar seorang pelayan pada kami. Dia tak menanggapinya, masih menatapku.
“Hot Chocolate aja satu. Kamu Yo??” tanyaku padanya. Ia menganggaruk belakang tengkungnya sejenak saat melihat daftar menu yang disodorkan pelayan café ini.
“Strawberry Milkshake satu” pilihnya. Lalu merogoh handphone yang diletakkan di saku jaket merahnya.
“Sudah ini aja?” Tanya sang pelayan memastikan. Aku mengangguk meng-iyakan tanpa menunggu persetujuan Rio. Pelayan itu pun pergi, menghidangkan sebuah keheningan kembali.
“Kamu pikir aku sombong dan pelit?” tiba-tiba Rio membuka suara. Pelan namun sangat dalam. Dengan entengnya aku mengangguk sambil tak lupa menyunggingkan senyum sinis.
“Julukan apa yang lebih pantas kalau begitu?” tanyaku balik membuatnya sedikit terperanjat. Diam, mengamati layar HP-nya sejenak. Lalu menatapku.
“Lalu, bagaimana dengan pernyataan akhir tentang aku yang menawan Miss. Jutek?” Katakan bahwa ini bukan sebuah perlawanan. Nada bicaranya mulai meninggi. Dan keangkuhan mulai terlihat di wajahnya. Keangkuhan yang membuatku bertahun-tahun ini tak berhenti mengaguminya.
Sebuah pengakuan pun harus terurai dari bibir ini. Aku sudah cukup lama menunggu waktu yang tepat. Dan mungkin ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan untukku. Ini adalah pengakuan pertama yang akan ku buat. Catat, Ini yang pertama. Aku tak pernah membuat pengakuan sebelumnya pada siapapun.
“Kamu menawan. Selalu membuatku tercengang dengan segala hal yang Kamu lakukan. Yah, harus ku akui Kamu memiliki wajah tampan. Dan jujur sejak pertama kali pertengkaran kecil kita waktu itu, aku mulai mengagumimu-“
***
“Jawaban nomor 3 itu apa sih? Aku gak tau” uajrku polos. Sambil mengerucutkan bibir yang menandakan aku sedang bingung. Mungkin teman sebangku yang ini bisa membantu menjawabnya. Setahuku siswa-siswa yang duduk di bangku depan adalah siswa pandai, dan mungkin dia salah satunya.
“Pikir aja sendiri. Meski pun ini bukan ulangan, tapi tetep aja kita bersaing mendapat nilai terbaik di kelas ini” jawabnya menyombong. Aku tertegun sebentar lalu, melontarkan kata-kata pedas.
“Dasar Monyet pelit” desisku. Dia menyelidik.
“Ye, daripada kamu bebek bego” ledeknya, sambil menjulurkan lidahnya.
***
“Bebek bego.. kenapa baru bilang sekarang sih?” tanyanya sambil mengacak rambutku. Aku menaikkan satu alisku? Apa yang baru terungkap sekarang? Hey dia masih mengingat nama ejekan masa kecil kami.
“Kenapa baru bilang sekarang kalo kamu suka sama aku?” jelasnya, sambil tersenyum. Dan aku memasang wajah heran. Darimana dia mengetahui kalo aku memang menaruh hati padanya. Padahal tadi aku hanya mengatakan bahwa aku mengaguminya. Apa mengagumi memiliki kesamaan arti dengan menyukai?
“Lagi pula apa itu penting?” tanyaku. Ku harap dia akan menjawab bahwa itu sebenarnya tidaklah sangat penting. Hanya saja itu akan membuatnya dapat menambahkan aku di daftar para gadis-gadis yang menyukainya. Aku tak berharap dia akan menjawab itu penting. Aku tak ingin sedikit pun diberi harapan olehnya.
“Um—sebenarnya.. Itu sangat penting bagiku” Jdeer. Ini bagaikan kilat. Cahayanya menyambar membuatku kaget, dan hampir saja membuatku terkena serangan jantung mendadak.
“Aku tau mungkin ini terdengar konyol. Bahwa dulu saat masih SD aku membuat sebuah kebohongan. Kebohongan yang menarikku menuju sebuah penyesalan saat ini.
“Aku membohongi diriku sendiri. Bahwa aku pun merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi perasaan itu pun baru terbaca saat kelulusan kita di SD. Ah, aku memang pengecut” Akunya. Kenapa jadi dia yang membuat pengakuan? Bukankah aku yang dari awal memang ingin membuat pengakuan?
“Jangan bercanda” hardikku tegas. Dia tercengang mendengar pernyataanku. Lalu menyerngit kecil.
“Apa ada lelucon yang baru saja ku sampaikan? Hei aku serius!! Aku benar-benar pernah menyimpan rasa padamu. Bahkan rasa itu tak mau pergi masih tersimpan rapi, sampai saat ini” katanya tegas padaku. Apa yang harus ku katakan? Hey.. aku benar-benar speechless. Tak tahu apa yang akan terjadi jika aku salah berucap.
“Kamu mau tau kenapa aku berubah sejak SMP? Seperti yang kamu katakan tadi!” aku akhirnya memberanikan diri angkat bicara. Karena dia telah membuat sebuah pengakuan yang cukup besar. Tidak ada salahnya memberitahu hal ini pula. Rio diam, seolah menunggu kelanjutan pertanyaanku.
“Sivia. Pacar pertamamu itu, yang membuatku berubah. Itu pertama kalinya aku patah hati. Sivia, orang pertama yang berhasil mendapatkan hatimu telah membuatku menjadi lebih pendiam dari biasanya” ujarku sarkatis. Menghakimi Sivia yang sebenarnya tidak salah apa-apa. Yang salah disini hanya aku, dan keberanianku.
“Maaf untuk itu. Maaf mengecewakanmu. Tapi aku dan Sivia hanya tinggal kenangan sekarang. Dia telah bertunangan dengan kak Gabriel. Masih ingat? Kakak kelas kita yang sangat jahil itu.” Ujar Rio, sambil tersenyum getir. Aku tak tau apa yang dirasanya, dan juga tak mau tau.
“Ini pesanannya mas.. mbak..” sang pelayang itu kembali kagi dengan nampan kayu berpelitur yang berisi secangkir hot chocolate dan segelas penuh milkshake strawberry.
“Saat SMA, aku pernah berpikir bahwa mungkin kita tak akan pernah sekelas lagi. Karena saat SMP pun kita tak pernah sekelas. Tetapi Tuhan ternyata punya rencana lain. Di tahun ke-3 di SMA, yang sekaligus tahun terakhir, kita sekelas. Hal itu membuatku sangat senang. Karena selama ini aku hanya bisa mengawasimu dari jauh. Sesekali melihatmu yang tak henti-hentinya keluar masuk perpustakaan
“Tapi aku kecewa, saat akhirnya kita pun sekelas. Kamu sudah berubah. Lebih banyak berdiam diri, dan duduk sendiri di bangku paling ujung. Seperti sedang frustasi menghadapi sesuatu—”
“yah aku frustasi memikirkanmu” potongku sebelum Rio melanjutkan ceritanya.
“Aku ingin menghiburmu saat itu. Tapi Shilla menghalangiku. Di bilang, apa jadinya Sivia jika melihat hal itu. Yah, Shilla adalah satu-satunya sahabatku sejak SMP yang mengetahui perasaanku padamu. Dan disisi lain, Shilla pun adalah sahabat dari Sivia.
“Tahu sendiri kan bahwa Sivia tipe gadis pencemburu? 6 tahun kami berhubungan tak sedikit pun dia memberi ku sebuah kepercayaan. Begitu tragis.” Rio menghentikan ceritanya dan meminum milkshake miliknya. Seperti sedang kehausan.
Aku tersenyum mendengar ceritanya. Pria yang begitu lembut pada wanita ini, ternyata tertekan dengan sikap Sivia. Tapi meski begitu, yang ku tahu hubungan mereka berjalan dengan lancar. Ya, kadang juga dibumbui masalah-masalah kecil. Dan… Hey bagaimana mereka bisa putus?
“Kalian kenapa putus?” tanyaku memberanikan diri. Rio diam sejenak, lalu menghela nafas panjang.
“Mungkin itu takdir, aku dan Sivia putus saat semester awal bangku perkuliahan. Sivia yang menetap di Bandung, sedangkan aku sendiri yang ada di Jakarta. Berkutat dengan kesibukan kami masing-masing. Dan akhirnya, aku mengambil keputusan untuk kita putus. Lagi pula, aku sadar bahwa dia hanya ku anggap sebagai adikku saja. Tak lebih.
“4 bulan yang lalu, aku dengar kabar bahwa dia bertunangan dengan kak Gabriel. Sangat cepat kurasa? Hanya berselang 2 tahun setelah kami mengakhiri hubungan” ungkap Rio miris. Apa dia menyesal dengan keputusan mengakhiri hubungannya yang hampir genap 7 tahun itu?
“Kau menyesal?”
“Tidak sepenuhnya. Aku bahagia bisa hidup kembali dalam dunia lamaku. Bisa bebas memilih karakter apa yang akan ku mainkan dalam hidupku.” Jawabnya sambil tersenyum tulus. Senyum itu, senyum yang biasa ku perhatikan di sela-sela masa sekolah dulu. Senyum yang membuatku tak bisa berhenti mengaguminya.
“Apa kau masih menyimpan rasa itu untukku?” Tiba-tiba Rio melontarkan kata-kata itu. Aku, sontak gelagapan. Tapi aku rasa ini semua harus segera dituntaskan. Segera.
“Aku tak tahu pasti rasa itu masih ada atau telap lenyap. Yang ku tahu, aku senang bisa kembali bertemu denganmu. Dengan teman masa kecil yang separuh hariku di habiskan dengan ada didekatmu. Mungkin masih terselip rasa kagum yang dulu sempat melonjak-lonjak. Tapi maaf, aku tak telah mengubur rasa itu, selama 3 tahun itu. Saat terakhir kita bertemu di depan gerbang sekolah”
***
“Hei Fy.. kamu lulus juga kan??” sapanya saat berpapasan denganku. Terlihat dari bajunya tercorat-coret dengan spidol dan beberapa telah warna-warni dengan pilox. Itu menandakan dia telah lulus. Aku sudah bisa menebak sebelumnya. Lelaki brilliant sepertinya pasti akan lulus.
“Aku lulus kok” jawabku singkat. Dan melangkah sedikit menjauhinya. Tapi dia malah menahan lenganku. Sedikit terlonjak mendapat perlakuan seperti itu.
“Congratulation ya..” ujarnya sembari menyodorkan tangannya padaku. Kujabat tangan kekar itu, lalu mulai melangkah pergi. Dia tak menahanku lagi.
“Masih ingin menjadi seorang dokter?” Teriaknya kearahku dengan lantang, kulihat kebelakang dia tersenyum padaku. Aku menggeleng dengan santai. Dan berlari kecil menjauhinya. Aku ingin berlari menghilang dari kehidupannya. Dan berharap menemukan dunia yang lebih indah.
***
“Lalu sekarang kau mengambil jurusan apa?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum tipis. Aku pun merogoh sesuatu yang ada dalam tas slempang warna putih yang biasa menemaniku.
“Aku mengambil jurusan Sastra. Karena kamu telah membuatku mencintai sastra.
“Hey lihat, ada yang datang. Alvin dan Agni tampak menuju kemari. Aku harap mereka tak mengetahui rahasia kecil kita barusan” kataku, sambil menuju meja lainnya.
“Kamu curang, masa’ gak cerita bagaimana masa lalu saat kamu suka sama aku?” tahannya saat melihat aku akan segera pindah tempat lain. Kusodorkan sebuah novel berjudul “Coretan Masa Lalu” yang masih tersegel rapi, padanya.
“Semua tertulis disini. Dari awal kita bertemu, hingga pertemuan terakhir kita. Aku tak curangkan?” ucapku sambil tertawa. Dia mengambilnya sambil tersenyum.
“Ini akan menjadi rahasia kecil kita kan??”
“Tentu..”
-End-
Oleh : DiNa Si Pencil
Sabtu, 07 Mei 2011
Sebuah Pengakuan
Label:
Cerpen karya Admin SSL
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Post 

0 komentar:
Posting Komentar