Kamis, 28 April 2011

Sang Hujan -Part 3-

***

Hari masih gelap, tapi di luar sedang hujan deras, sangat deras. Seperti derasnya air mata yang kini turun dengan cepat. Disini sunyi, hanya detakan jam yang menunjukkan bahwa masih pukul 4 pagi. Aku tak bisa memejamkan mata dari semalam. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu masih terekam jelas dalam otakku.

Aku, terdiam dalam keremangan ini. Menyusuri setiap sudut kamar yang tak pernah berubah sejak aku menempati kamar ini. Sejenak terlintas sebuah pemikiran untuk mengobrak-abrik kamar ini. Mungkin dengan itu aku akan dapat merasakan suatu sensasi kepuasan.

‘Klik’ bunyi itu terdengar keras mengagetkanku. Ku lirik layar Laptop yang sedang menyala. Aku memang begitu jarang sekali mematikan Laptop, membiarkannya hidup dalam waktu yang lama. Entah sejak kapan kebiasaan itu bermulai. Tak pernah ada yang menegurku, karena memang keluargaku tak pernah ada orang yang memasuki kamarku selain Tante Angel, dan aku sendiri tentunya.

Aku, melangkah mendekati Laptop yang tergeletak di atas meja belajar berwarna coklat tua itu. Ku tarik kursi yang yang biasa aku duduki jika sedang berkutat dengan Laptop, atau sedang mengerjakan PR.

Dia disana, dengan beberapa kata singkat. Kata yang sudah cukup menggantikan perasaan yang sejak tadi bergejolak tak menentu menjadi sebuah perasaan aneh, yang aku sendiri terheran-heran.

Rain       : Hi little girl.. :)
Sh_iLLa : Little girl?? LOL
Rain       : Are you dislike with the new call for you??
Sh_iLLa : Um, I think it’s better than the previous “whiny girl”
Rain       : Haha, you still remember it.. I’m so sorry, for mocking you at the time..
Sh_iLLa : But you’re right, I am a whiny girl :(
Rain       : Why do you talk like that?

Aku terdiam menatap layar Laptop. Sedikit menghela nafas, lalu mengetikkan kalimat balasan yang entah berapa kali aku hapus. Namun akhirnya ku kirim juga kalimat itu.

Sh_iLLa : Cause I’d been crying..
Rain       : Maybe, you can tell your problem to me.. But, it also if you want
Sh_iLLa : Are you serious??
Rain       : Of course little girl :)

Aku memejamkan mata sejenak, menguatkan diri untuk menceritakan kejadian semalam. Walaupun mungkin aku hanya akan menceritakannya secara singkat. Aku berharap mendapatkan sedikit kelegaan, dengan menceritakan hal itu terhadap Rain. Sang sahabat dunia maya, yang tak pernah bosan mendengarkan curhatanku ini.

Sh_iLLa : I can’t sleep since last night, I am very restless. And the cause of my restlessness is Alvin.
Sh_iLLa : Are you still remember him?
Rain       : Yeah. He is your first love, isn’t it? What’s wrong with him?
Sh_iLLa : Yup. Now, he has a relationship with my best friends, Ify.
Rain       : What??? How can???

Pertanyaannya tak bisa ku jawab. Aku sendiri tak pernah memimpikan bahwa pada akhirnya Alvin dan Ify akan menjalin sebuah hubungan asmara. Pertanyaan yang diungkapkan Rain, adalah pertanyaan yang juga menghantuiku semalaman ini. Pertanyaan yang hanya bisa di jawab oleh Alvin dan Ify. Bukan aku!

Sh_iLLa : I don’t know the cause.
Sh_iLLa : Ify told me that she has related with Alvin.
Sh_iLLa : I saw them having dinner last night. Accidentally, I’m having dinner with my family at the same restaurant.
Sh_iLLa : Do you know? I’m very shock!!
Rain       : Be Patient Shilla… There still many stock of boys in this world :)
Sh_iLLa : I know that!!! But I love him Rain…
Rain       : Are you sure? I think you don’t love him

Sedikit terkaget saat membacanya. Apa maksud Rain mengatakan hal itu?? Sudah sangat jelas aku mencintainya. Setiap malam yang ada di mimpiku adalah dia. Aku selalu merasakan euphoria aneh saat berada di dekatnya. Dan aku tak pernah bosan untuk memandangnya.

Sh_iLLa : What?!! How can you conclude that??
Rain       : Based all of your story about Alvin, I’ve ever heard
Rain       : You just admire him, not more.
Sh_iLLa : No… You’re wrong.. I love him Rain.. Maybe I am admire him too, but also love him very much..
Sh_iLLa : Please understand me…
Rain       : Okay, I will try. But, first I want to ask you something.
Rain       : What’s wrong if Alvin and Ify has a relationship? Instead, Ify is your best friend.. and Alvin is someone that you love.. you should be happy, 2 people that you loved have related.

Apakah dia tidak mengerti keadaanku? Aku sekarang terluka. Aku tak bisa menyangkal bahwa aku sedih. Bahwa aku sedang dalam keadaan yang sangat terpuruk saat ini. Aku tidak bisa menjadi seorang munafik yang berpura-pura senang dengan keadaan saat ini!

Sh_iLLa : It’s very hard for me, to feel happy.. Cause, my heart is broke. I’m hurt too.
Rain       : I know it. But, as a good friend you must be sincere. Please Shilla, I know that you is a strong girl.. I sure you can be sincere..
Rain       :  Shilla, I hope you didn’t cry again.. The rain is stop, and I must go Shilla.. Bye, see you later :)
Sh_iLLa : I‘ll try..
Sh_iLLa : Bye Rain.. Thanks for everything :)
Rain       : With pleasure.. :)
Rain       : Hey, look out of the house! There is a beautiful rainbow that ready to be admired :)

Rain is offline

Dia pun pergi. Dengan meninggalkan pertanyaan sama. Pertanyaan yang datang saat dia telah pergi. Apakah dia seorang remaja sepertiku? Atau Mungkin dia seorang mahasiswa seperti kakakku? Aku tak tahu jawabannya. Yang aku tau dia orang yang mau mencoba mengerti keadaanku.

Aku beranjak dari kursi goyang yang berwarna putih pucat itu. Membuka tirai yang menutupi jendela kamarku, cahaya mulai berebutan masuk, meski jumlahnya tak seberapa dibandingkan jika hari telah siang. Ku buka jendela kamarku kemudian. Kacanya dipenuhi oleh sisa air hujan, mungkin juga sebagian besarnya adalah embun pagi.

Rain benar, disana di arah jarum jam 2 terdapat pelangi yang sangat indah. Seolah pelangi itu merupakan pertanda kepadaku. Bahwa hari ini harus ada perubahan. Jika di hari kemarin aku selalu mengeluh dan membiarkan masalahku semakin besar, maka saat ini aku harus mampu dan berani menghadapinya dengan sebuah ketegaran. Karena aku tau, kesempatan untuk menyelesaikan masalah tak selalu datang 2 kali. Seperti pelangi yang tak selalu datang sehabis hujan turun.

***

Aku berjalan cepat menuju kantin, rasa dahaga mulai merasuk kedalam kerongkonganku. Upacara di hari ini berjalan dengan lama, mungkin salah satu pengaruhnya adalah matahari yang bersinar cukup terik.

“Mbak.. teh kotaknya satu ya??” pesanku pada penjaga kantin. Gadis yang kelihatannya seumuran dengan kak Gabriel itu mengangguk, lalu mengambilkan pesananku di dalam kulkas berukuran kecil yag terdapat dalam kantin kecil yang ada di SMA-ku ini.

“Ini dek…” ucapnya seraya mengambil uang 10 ribuan yang ada di tangan kananku, dia berlari kecil menuju kotak uang disebelah kiri tempat snack-snack dijual. Lalu menyerahkan kembaliannya padaku.

Seorang pemuda jangkung  dengan tampilan sedikit acak-acakan, sedang berdiri disana sambil mengambil beberapa snack, dan memasukkan kedalam kantong plastik. Aku sebenarnya tak mengenalnya. Namun dia –seolah– mengenalku. Yang ku tahu dia adalah kakak kelas aneh yang sungguh merupakan hama dalam kehidupanku.

“Hai Shilla..” sapanya sambil melambaikan tangan padaku. Apa-apaan sih dia? Di kantin yang ramai seperti ini bertingkah seperti anak kecil yang bertemu dengan kenalannya. Hhhh.. Apa juga maunya?

Beberapa kakak kelas perempuan menatapku tajam, seakan bertanya dalam tatapan membunuhnya “apa hubunganku dengan kakak kelas yang menyapaku layaknya anak kecil itu” –yang jujur saja aku tak mengenalnya–

Kakak kelas yang sering bersikap terlalu ramah itu berjalan menghampiriku, lalu menyerahkan kantong plastik yang isinya penuh dengan macam-macam snack itu. Dia pun mengacak rambutku pelan. Aku terdiam di tempatku, tak mengerti akan perlakuannya padaku. Hingga akhirnya aku sadar bahwa aku harus tau siapa nama kakak ini.

Ku lirik name tag yang ada di atas kantong baju SMA-nya itu. Tertulis huruf-huruf besar bertuliskan “Mario Stevano Aditya” Astaga.. Bukannya dia? Anak dari Pak Aditya seorang kepala sekolah di SMA-ku ini. Tapi mengapa dia mengenalku? Padahal jika di ingat-ingat aku tak dekat dengan satu pun kakak kelas yang ada di sekolahku ini. Tapi kalau di pikir-pikir ulang untuk yag kesekian kalinya, tak heran jika kakak ini mengenalku. Bukannya anggota KANVAS memang terkenal –kecuali aku– dengan kehebatannya masing-masing. Apalagi Ify yang baru saja terpilih menjadi gadis sampul pada suatu majalah, hal itu tentu membuat nama KANVAS semakin terkenal se-antero SMA ini.

“Aku ke kelas dulu ya” ucapnya seraya berlari kecil meninggalkan kantin. Aku masih terdiam di tempatku, memikirkan beberapa kemungkinan yang membuat dia bisa mengenalku. Apalagi sampai tau, bahwa aku memang penggemar berat snack daripada makanan lainnya yang orang-orang anggap mengenyangkan.

“Illa… jangan diem aja disitu, bentar lagi bel tau..” tiba-tiba Ify menarik lenganku dengan cepat menuju kelas. Aku masih tetap seperti orang linglung, ah dasar kakak kelas rese’ jadilah aku hilang kosentrasi barusan. Eh, tapi mengapa aku malah memikirkannya?

***

“Yang tadi siapa La?” Tanya Ify sambil menyenggol lenganku pelan. Aku berpaling dari buku tugas Fisikaku, menatap kearah Ify. Dia tersenyum sambil menaik-naikan alisnya.

“Oh, kakak kelas yang sok kenal itu?” tanyaku memastikan pada Ify. Dia kemudian tercengang, dan menatapku heran seolah ingin meminta penjelasan. Tapi bingung akan mulai darimana.

“Jadi kamu gak kenal sama dia?” Tanya Ify, sambil memangku dagunya yang lancip. Aku menggeleng cepat. Dan mengambil sebuah isi pensil dan memasukkannya pada pensil isianku.

“Lah, tapi dia kok tadi kayak yang perhatian banget sama kamu?” gumam Ify bingung. Aku tertawa kecil disela kebingungannya. Mengedikkan bahuku pelan. Lalu meneliti PR Fisika, yang sebentar lagi mungkin akan dikumpulkan.

“Tau namanya?” Ify kembali menanyaiku. Rupanya dia masih penasaran dengan kakak kelas itu. Aku menimbang sebentar, Memberitahunya kebenaran atau kebohongan. Tapi, sudahlah tak ada gunanya juga berbohong pada Ify.

“Di name tag-nya sih tertulis –Mario Stevano Aditya– dugaan aku sih, anaknya Pak Aditya” jawabku yakin. Dan, setelah mengucapkan nama itu bukan hanya Ify yang terperanjat. Namun, Agni yang kebetulan duduk di bangku depan Ify, melirikku sekilas dengan wajah kaget. Aku hanya memasang wajah innocent pada mereka berdua.

Ku lirik Agni di tempatnya, tampak gusar dan menggumamkan kata tak jelas. Wajahnya masih terlihat kaget. Ify, masih terbengong di tempatnya. Lalu semua lenyap saat Bu Indi memasuki kelas kami.

“Selamat pagi anak-anak” sapanya ramah namun sangat tegas, tangan kiri dan kanannya saling bertautan. Dia, tersenyum sambil menunggu sapaan balasan dari kami.

“Pagi Bu…” semua kompak menyerukan sapaan balasan untuk Bu Indy, yang terkenal ramah itu. Memang dia salah satu guru favorit kami. Guru yang menurut kami, sangat cerdas dalam menerangkan materi pada kami.

“Hari ini, kita kedatangan murid baru pindahan dari SMA Ribble” ujarnya masih sambil menyunggingkan senyum. Beberapa anak mulai menduga-duga siapa anak baru itu. Aku, juga ikut berfikir mengapa murid dari SMA sekolah itu sampai pindah? apakah mungkin karena itu merupakan sekolah asrama? Aku tak tahu. Mungkin bisa bertanya padanya nanti.

“Eh—Mungkin Ray murid barunya..” ujar Acha semangat dari belakang bangkuku. Aku, mengerutkan kening tertahan. Baru tahu jika Ray, adalah salah satu murid sekolah itu.

“Kalo bukan Ray juga gak pa pa sih, siapa tau dia temen deket Ray” Acha masih saja berceloteh ria, yang tampak tak di gubris oleh Sivia. Aku tertawa tertahan mendengar kemungkinan-kemungkinan lain Acha, yang tak lain semua tertuju pada Ray.

“Harap tenang anak-anak” ujar Bu Indy kemudian, “sebentar lagi Pak Irfan akan datang bersama murid baru tersebut” tambahnya lagi. Aku melirik ke samping kananku, Ify sejak tadi rupanya tak mendengarkan pemberitahuan Bu Indy. Dia sibuk memainkan HPnya.

“Hey, kamu gak dengerin Bu Indy ya?” tanyaku, sambil merampas HP BBnya itu. Dia nyengir diperlakukan seperti itu.

“Hehe, kembaliin dong La? Kan aku mau bales sms dari Alvin” ujarnya sambil mecoba merebut HPnya yang ku pegang erat. Namun dengan ucapannya, semangatku untuk menjahili Ify langsung sirna. Tiba-tiba aku merasa baru sadar dari tidur saat mendengar nama Alvin. Jujur, aku lupa sama sekali tentang hubungan mereka, selama beberapa jam yang baru ku lalui. Aku segera menyerahkan HP itu pada Ify, yang ditanggapi tatapan curiga darinya.

“Nah, ini dia teman baru kalian” ujar Bu Indy saat Pak Irfan dengan seorang anak lelaki sebaya dengan kami masuk kelas. Dia, berambut gondrong, sedikit bertubuh mungil. Tingginya mungkin hanya lebih 3cm dari tinggi Acha, tak lebih tinngi dari aku. Mengenakan jaket kulit hitam. Dia tampak tersenyum pada kami semua.

Acha, yang melihat kedatangannya langsung berdiri dari duduknya, menghampiri anak baru itu dengan wajah semangat. Eits, rupanya aku salah bukan hanya Acha yang menghampirinya namun hampir ¾ dari anak perempuan dikelasku maju ke depan kelas untuk menghampirinya.

“Oh my God.. He is Raynald…” seru Acha, ketika berdiri di depan Ray. Tanpa dikenalkan, tentu kami semua mengenalnya. Secara, dia artis ibu kota yang digilai itu.

“Kamu bener-bener Ray kan? Aku gak mimpi kan? Kamu sungguh sekelas dengan aku? Oh Tuhan, betapa baiknya engkau” Acha berceloteh ria dihadapan Ray. Ray tersenyum manis padanya, mengulurkan tangannya pada Acha tanpa menggubris gadis-gadis lain yang mengerubunginya.

“Hai kamu Acha kan?” itulah yang tercetus dari bibir Ray, saat Acha membalas uluran tangannya. Sudah bisa dipastikan, ini memang sebuah drama khas Indonesia. Acha langsung pingsan disana. Yang menimbulkan kepanikan Pak Irfan dan Bu Indy.

“Halah, gitu aja pingsan” seseorang menyeletuk dengan nada mengejek. Aku mencari sumber suara itu. Ternyata sang pengejek itu duduk di bangku paling ujung, sedang membaca buku tebal yang entah tentang apa. Pandangannya tertuju pada Acha. Pandangan tajam, dengan masih tersenyum menghina. Siapa lagi kalau bukan Ozy.

Aku, Ify, Sivia, Agni dan Zeva segera bangkit dari tempat duduk dan mengikuti Pak Irfan yang nampaknya akan membopong Acha ke UKS. Kami, ber-5 segera mengejarnya. Ray juga turut ikut berjalan bersama Bu Indy dibelakang kami.

***

Zahra, mendekatkan kapas yang sudah diberi alkohol pada Acha, beberapa saat kemudian Acha bangun. Dan tampak melihat kesekitarnya yang sudah dikerubungi oleh Aku, Ify, Sivia, Agni, Zeva, Ray dan Zahra yang kebetulan mendapat tugas jaga di UKS hari ini.

“Ray..” gumamnya tercekat saat matanya sampai pada Ray. Ray tersenyum disana. Acha mengucek matanya pelan lalu, membukanya lagi dan menoleh ke tempat Ray berada.

“Kamu kok bisa tau nama aku sih?” Tanya Acha kemudian. Aku tau dia kaget sekaligus senang. Yah, sebagai seorang penggemar pasti aku dan tentunya semua orang akan senang jika idola yang kita kagumi ternyata pindah ke sekolah kita, apalagi ini sekelas. Catat bahwa ini mungkin salah satu mukjizat indah yang diberikan Tuhan untuk sahabatku Acha.

“Kemarin salah satu admin pusat RR, yang kebetulan sepupu aku, bilang kalo ada salah satu admin pusat RR yang sekolah di SMA ini dan bakal sekelas sama aku. Dia, nyerahin foto kamu ke aku sambil ngasih tau kalo nama kamu Acha” jelas Ray singkat. Acha tersenyum mendegarnya lalu melontarkan sebuah pertanyaan lagi pada Ray.

“Beneran salah satu admin pusat sepupu kamu? Siapa Ray? Anggi? Mely? Fita? Atau malah Reta?” Acha segera bangkit dari ranjang kecil yang bersprei putih itu, ia segera berdiri di hadapan Ray.

“Ada deh, dia gak mau disebutin namanya. Mungkin gak ingin diketahui identitas aslinya” jawab Ray. Acha cemberut mendengar jawaban yang kurang memuaskan tentunya. Aku tersenyum, sambil membelai pundak Acha.

Bu Indy datang, dan tersenyum melihat Acha yang sudah siuman. Beliau kemudian menyuruh kami masuk kelas. Karena jam pelajaran sudah terbuang sia-sia karena insiden Acha yang pingsan. Ah, dasar Acha. Sahabatku yang bawel ini ada-ada saja tingkahnya.

***

“Illa…” seseorang berteriak memanggilku. Dia berlari dari tempat parkir menghampiriku. Terlihat wajahnya sudah sangat lelah, peluh sejak tadi membanjiri kulit putihnya.

“Hai kak Deva? Apa kabar?” sapaku ramah, dia tersenyum menanggapinya sambil mengatur nafas yang tampaknya berjalan tidak teratur. Kemudian dia menganggkat tangannya, yang aku sendiri tak mengerti apa maksudnya.

“Ify mana?” tanyanya kemudian, masih berusaha mengatur nafas. Aku mengedarkan pandanganku untuk menjawab pertanyaannya. Benar saja dugaanku, Ify sedang bersama Alvin di depan kelas kami. Tampak sedang berbincang renyah, dan sesekali tertawa menanggapi topik pembicaraan yang mereka lontarkan, pemandangan yang cukup miris bagiku.

“Itu kak.. Lagi bareng sama Alvin.. Hehe biasa pasangan baru, maunya nempel terus” ujarku mencoba bersikap biasa tentang hubungan Alvin dan Ify. Yah tujuan semata-mata agar kak Deva tidak mengetahui kesedihanku.

Kak Deva, memandang mengikuti arah jari telunjukku. Sejenak dia terlihat heran dengan pernyataan yang kulontarkan. Apakah dia tidak tahu bahwa sepupunya itu telah menjalin suatu hubungan istimewa dengan Alvin?

“Mereka pacaran?” tanyanya yang ternyata cukup tanggap dengan pernyataan yang kuberikan tadi. Aku mengangguk pelan sambil memberikan senyum padanya.

“Waduh.. si Ify gak bilang-bilang lo sama aku La.. Padahal kan aku ini sepupu sekaligus manager dia.. Ckck dasar anak jaman sekarang” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

“Belum sempet kali kak. Atau mungkin masih malu-malu yang mau bilang. Mungkin juga Ify ingin kakak tau sendiri bahwa dia sudah punya pacar” jawabku ngasal, sambil memperhatikan gerbang sekolah. Aku berharap kak Gabriel segera datang menjemputku, karenaa aku sendiri malas membicarakan hubungan Alvin dan Ify pada kak Deva.

“Ya udah deh, aku samperin langsung mereka. Udah jam berapa juga ini. Ify lagi ada proses pembuatan iklan jam 3” katanya mengakhiri pembicaraan denganku, sambil kembali berlari ke depan kelasku. X 5

“Illa, langsung ke rumahku aja yuk? Ngerjakan tugas Biologinya. Biar nanti pulangnya gak kemaleman. Kamu bareng aja sama aku, kan kamu gak tau rumah aku. Kalo Oik, Dea sama Keke, nyusul nanti jam setengah 3 langsung kerumah aku” cerocos Zahra yang tiba-tiba berada disampingku, seperti hantu saja anak ini. Aku berpikir sejenak, ada baiknya juga tawaran Zahra. Aku mengangguk mantap, lalu segera mengambil HP dan mengirimkan pesan singkat kepada kak Gabriel agar tak usah menjemputku.

***

Aku mengambil alih tugas Zahra yang sedari tadi mengetik. Dea merangkum beberapa bagian buku yang dirasa penting. Oik dan Keke mencari bahan tambahan di internet untuk nanti dipresentasikan, sedang Zahra izin ke dapur untuk mengisi ulang teko jus yang baru saja ludes. Karena kami yang kehausan.

“Perasaan tugas Biologi tuh ada melulu ya? Terus juga tugasnya gak jauh-jauh dari presentasi. Males” gerutu Oik yang kemudian selonjoran di karpet sampingku. Memperhatikanku yang sibuk dengan Power point yang sedang ku buat.

“Sebagai siswa, wajar dong kita dikasih tugas sama guru. Yang gak wajar itu kalo guru ngebiarin kita gak dapet tugas. Itu namanya guru makan gaji buta” sanggah Keke tenang, masih berkutik dengan Laptop yang memang dibawanya, berselunjur di internet untuk menambah bahan yang akan dikaji dalam presentasi nanti.

“Iya tau deh yang pinter Biologi” canda Oik, yang sama sekali tak digubris oleh Keke.

“Eh bentar— aku ada satu pertanyaan deh buat kamu Shil” Dea, tiba-tiba berhenti menulis dan memandang kearahku. Aku juga menghentikan aktifitas mengetik, dan memandang kearah Dea yang nampaknya serius.

“Kenapa?” tanyaku tenang. Dea tampak menimbang-nimbang apakah keputusannya benar menanyakan hal itu kepadaku.

“Ada masalah sama Agni ya?” tanyanya lembut. Aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan, sebegitu terlihatnya kah bahwa aku dan Agni sedang terlibat dalam suatu masalah? Yang sebenarnya aku sendiri tak tahu apa asal usulnya.

“Enggak kok” jawabku singkat sambil kembali mengetik. Terlihat dari sudut mataku, Oik tampak mendelik pada Dea karena pertanyaan yang dilontarkan padaku. Mungkin Oik menganggap Dea terlalu mengusik masalah pribadiku, jadi dia memperingatkan pada Dea agar tak melanjutkan pertanyaan aneh-anehnya itu.

“Agni emang gitu kok. Aku udah kenal dia dari kecil. Um—Aku ingetin yah Shil, dia gak mudah benci sama orang tanpa alasan yang jelas, dan sekali udah benci sama orang susah redanya” Keke tiba-tiba angkat bicara.  Aku terdiam mendengarnya, benarkah yang dikatakannya? Aku memang tau bahwa rumah Keke bersebelahan dengan rumah Agni. Setahuku dulu mereka bersahabat baik, tapi sekarang? Rival dalam bidang apa pun. Penyebabnya? Hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.

***

Aku berkali-kali menghubungi Handphone kak Gabriel, nihil tak ada yang mengangkatnya. Bagaimana caranya aku pulang? Di luar sedang hujan deras. Dan sumpah baru kali ini aku kesal dengan kedatangan hujan. Berkali-kali aku merutuki hujan yang tak kunjung reda. Oik, Dea, dan Keke sudah pulang sejak 1 jam yang lalu. Zahra terlihat gelisah duduk disampingku. Aku pun juga sebenarnya sedang sangat kalang kabut, meski aku bersikap tenang di hadapan Zahra.

“Um—nanti biar kakak aku aja deh yang nganter kamu. Tapi nunggu dia pulang  ya?” Zahra seolah membaca gerak-gerikku yang sedari tadi sibuk dengan Handphone-ku. Aku meng-iyakan saja pernyataan Zahra tanpa pikir panjang. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah Zahra.

“Itu pasti kakak aku, ya udah keluar yuk. Biar kamu langsung pulang aja” ucap Zahra sambil membuka pintu rumahnya, aku mengikutinya dari belakang. Dan benar saja seorang pemuda yang ku temui di minimarket beberapa hari yang lalu turun dari mobilnya.

“Kakak… Anterin temen aku pulang ya. Soalnya sejak tadi orang rumahnya gak ada yang angkat telpon dari dia” pinta Zahra, ternyata dugaanku benar bahwa dia adalah kakaknya. Dia mengacak rambut Zahra pelan, lalu menyanggupi permintaan adik kecilnya itu. Tampak sebuah hubungan kakak beradik yang sangat harmonis.

“Oh ya La.. Kenalin ini kakak aku, namanya kak Cakka” ujar Zahra kemudian. Aku tersenyum padanya, dia membalas senyumku lalu membuka suara.

“Adiknya Gabriel ya?” tanyanya lembut, sambil mengusap beberapa air hujan yang menimpa wajahnya. Aku mengangguk meng-iyakan.

“Ya udah, ayo kakak antar. Kakak, nganter dia dulu ya Ra..” pamitnya pada Zahra, Zahra mengangguk menanggapinya. Dia kemudian memasuki mobilnya kembali, aku duduk disamping mobilnya. Dan beberapa detik kemudian kami melaju melewati derasnya hujan. Membelah jalan-jalan kotaku yang sepi. Mungkin karena hujan maka orang-orang malas keluar rumah. Mobil kak Cakka melaju kencang, karena jalanan memang sedang sepi. Gaya menyetirnya seperti professional, setiap tikungan yang kami lewati tak menjadi masalah dengan kecepatan mobil yang dikendarai kak Cakka. Mungkinkah dia seorang pembalap?



To be continue...
Read more "Sang Hujan -Part 3-..."

Sang Hujan -Part 2-


***

Rintik-rintik gerimis kembali mengguyur kotaku. Tapi sayang, aku tak dapat menikmati dingin yang menyenangkan itu. Mama menepati janjinya. Kak Gabriel siang ini menjemputku, dan harus ku akui ini adalah bencana besar dalam hidupku. Yah, duduk disamping kursi pengemudi adalah hal yang paling tak menyenangkan, apalagi sang pengemudi itu adalah kak Gabriel, pria perfectionist yang entah mengapa sering menghakimiku. Sebelas dua belas lah dengan Mama.

“Gimana prestasi belajar kamu disekolah??” tanyanya tanpa melirikku, dia sangat memperhatikan jalanan, mungkin karena jalanan licin akibat hujan.

“Seperti biasa” jawabku singkat, malas sekali aku bertukar pikiran dengannya. Apalagi membahas soal pelajaran, yang aku yakin nantinya akan dianggap siswa bodoh olehnya.

“Maksud kamu??” tanya lagi, aku tak menghiraukannya sibuk menghitung titik air hujan yang bertambah setiap detik di kaca sampingku.

“Ini yang membuat Mama, selalu marah padamu Illa. Kamu sama sekali tak pernah menghargai seseorang meski dia adalah orang yang lebih tua darimu” ujar kak Gabriel dengan tenang. Aku masih tak menggubrisnya, biarkan saja dia menyalahkanku. Toh, orang-orang dirumah tak ada yang mengerti keadaanku. Hanya Tante Angel yang bisa mengerti keadaanku, yah dia bisa dibilang malaikat penolongku.

“Sampai kapan kamu akan seperti  ini?“ bentaknya kemudian. Jujur, baru kali ini aku dibentak olehnya, mungkin juga karena kami jarang bersama jadi tak ada sedikit pun kesempatan untuknya membentakku.

“Cukup kak. Aku gak mau nambah masalah aku. Daripada kakak ngurusin hidup aku, mending kakak urusin hidup kakak sendiri” telakku pada kak Gabriel, dia mendengus kesal. Lalu, tak terjadi percakapan apa pun diantara kami berdua lagi.

Kak Gabriel, membelokkan mobilnya ke arah Utara. Padahal jika sudah di pertigaan seperti ini untuk melanjutkan perjalanan ke rumah kami, kami harus berbelok ke arah selatan. Hah.. membuang-buang waktu saja. Kemana tujuan kak Gabriel sebenarnya?

“Kita mau kemana kak??” tanyaku padanya. Tapi alhasil dia tak menjawab, malah memberhentikan mobilnya di depan sebuah minimarket. Oh, ini tujuan kak Gabriel rupanya.

“Kamu tunggu disini aja. Gak usah ikut turun” pesannya sebelum segera keluar dari mobil. Aku mengangguk singkat, sambil mengedarkan pandanganku. Berharap bertemu seseorang yang rumahnya tak jauh dari sini. Yah, Alvin.

Aku mendapati sesosok orang yang ku kenal, sedang duduk di samping kursi pengemudi sama sepertiku. Kursi pengemudi disampingnya rupanya juga kosong. Headset terjuntai dari rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Matanya sibuk menulusuri novel yang dipegangnya, tampaknya dia sedang serius. Ingin menyapanya, tapi tak enak juga jika sampai menganggu konsentrasinya.

Aku menatap lekat rumah berpagar besi hitam itu, tampaknya tak ada tanda-tanda bahwa Alvin akan keluar dari rumah. Lagi pula, jika aku bertemu dengannya maka yang ada tentu ejekan-ejekan kecil, yang berbuntut pada pertengkaran. Sudahlah.

Sepuluh menit berlalu dengan lambat, kak Gabriel belum juga keluar dari minimarket itu. Lebih baik kususul dia, sekalian aku ingin membeli beberapa snack.

Saat hendak membuka pintu mobil, aku melihat kak Gabriel akan membuka pintu minimarket itu. Dibelakangnya berdiri sosok pemuda yang kelihatannya sebaya dengan kak Gabriel. Aku meneliti pemuda itu lebih lama, karena aku yakin aku pernah melihat dia sebelumnya. Tapi dimana?

Tiba-tiba Zahra, gadis yang tadi ada didalam mobil sampingku, dengan wajah berbinar menghampiri pemuda tersebut. Yang sekarang aku yakini adalah kakaknya.

“LO TUH EMANG SELALU NYARI MASALAH YA??” Kak Gabriel berteriak tepat di hadapan pemuda –yang kuduga adalah kakak Zahra– itu. Aku tertegun di ambang pintu mobil, saat itu juga. Keringat dingin mulai menjalariku. Ada apa ini?

Zahra, terdiam ditempatnya. Sedikit ketakutan tampaknya, sedangkan pemuda itu tersenyum tenang. Seolah-olah kejadian barusan hanya akting belaka yang dilakukan kakakku.

“Santai dong bro.. Ini tempat umum.. Gak malu lo, teriak-teriak kaya orang gila gini?” tanyanya santai. Kak  Gabriel terlihat geram, dan mulai mengepalkan tangannya. Perasaanku tak enak, aku harus membawa kak Gabriel cepat pergi dari sana.

Aku, segera berlari menghampiri mereka berdua. Tak ingin terjadi apa-apa. Zahra, menatapku bingung saat aku sudah berada tepat disamping kak Gabriel. Pemuda itu –yang entah siapa, tapi mungkin adalah kakak Zahra– menatapku sambil memberikan senyum tipis.

“Kak.. Udah mulai sore, aku ada banyak PR. Cepet pulang yuk..” ajakku sambil menarik pergelangan tangannya. Tapi kak Gabriel tak beranjak ditempatnya. Dari matanya aku melihat kemarahan yang memuncak.

“Urusan kita belom selesai” katanya cepat sambil mengempaskan tanganku dari lengannya, dan beranjak menuju mobil.

“Duluan ya Ra..” pamitku pada Zahra, dia mengangguk dan tersenyum tipis. Aku membalas senyumannya, sambil berjalan ke arah mobil.

“Tin.. Tin.. Tin..” kak Gabriel tak hentinya membunyikan klakson mobilnya. Ada apa sebenarnya? Mereka bermusuhan kah?

***

Aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang keluarga. kak Gabriel melempar bungkusan yang dibawanya tadi dari minimarket di atas meja, rupanya dia juga membeli kaleng minuman yang berakibat terjadi sedikit kegaduhan di ruangan ini. Mama, yang ternyata berada di dapur datang dengan celemek yang sedikit kotor, sambil menaikkan satu alisnya.

“Ada apa?” tanyanya menyelidik, kak Gabriel bungkam. Enggan menceritakan perkara di minimarket yang aku sendiri tak tahu asal usulnya.

“Gab?? Illa??” Mama kembali angkat suara karena tak ada sahutan dari kami. Kemudian dia menatapku seakan bertanya apa yang terjadi. Dengan penuh keberanian, aku mengedikkan bahu. Karena aku memang tak tahu. Saat itu juga Mama menatap kak Gabriel, yang jelas pada wajahnya menyisakan kekesalan yang mendalam.

“Illa, cepat kamu naik ke atas dan ganti baju” perintah Mama, aku segera mengambil tas yang ku letakkan di sofa sampingku, dan segera berjalan menuju tangga. Aku mengerti, sepertinya Mama ingin berbicara berdua dengan kak Gabriel. Ah, beruntungnya kak Gabriel. Mama sangat mengkhawatirkannya sampai-sampai ada saat dimana mereka selalu bertukar pikiran. Sedangkan aku? Kuharap suatu saat nanti, akan ada kesempatan seperti itu.

***

“Kata orang, hidup itu tak akan bermakna jika berjalan lancar. Karena kerikil-kerikil masalah lah yang menjadikan kehidupan kita akan lebih bermakna, karena hal itu dapat membuat kita lebih dapat berpikir dewasa. Tapi.. pertanyaan aku kali ini, apakah dengan terlalu banyak masalah itu kita tetap akan menjadi lebih dewasa? Bukan kah, dengan terlalu banyaknya ‘pemasalahan’ akan berakibat fatal? Sehingga orang-orang yang tak sanggup menanggung permasalahan tersebut memilih jalan pintas. Dengan itu bunuh diri pun tak bisa dihindari. Penyebab bunuh diri tak lain adalah masalah yang datang beruntun. So, bagi para remaja kita saat ini jangan cepat mengambil ‘jalan pintas’ itu. Terus juga, jangan memperbanyak masalah dikehidupan kalian juga ya..” Aku mengutip beberapa kalimat yang baru kubaca dari sebuah majalah. Kalimat yang menurutku sangat memotifasi bagi remaja Indonesia yang mungkin beberapa persen adalah remaja yang kurang beruntung. Termasuk aku.

Aku membuka kaca jendela kamarku, hujan sudah reda dari beberapa menit yang lalu. Tapi, jalanan di depan rumahku masih saja basah. Awan dilangit yang tadinya mendung juga sudah berubah menjadi gumpalan awan putih. Jujur aku menyesal, tadi Rain sempat menyapaku di YM. Tapi karena aku baru saja pulang, aku tak sempat membalas sapaan renyah Rain seperti biasa. Aku berharap hujan turun lagi..

“Illa…” sebuah suara mengagetkanku dari lamunan tentang Rain yang sejak tadi memenuhi otakku.

“Masuk aja enggak dikunci kok” ujarku, yang sudah tahu siapa pemilik suara itu. Yah, dia Acha. Salah satu sahabatku, yang jika Sabtu sore tiba akan segera singgah dikamarku, entah untuk sekedar mengobrol atau juga curhat.

“Hum.. Gila Bete banget sumpah La..” dengusnya kecil sembari menghampiriku.

“Hus.. Iya aku tau.. Tapi jangan pake sumpah-sumpah segala ah.. Jangan main-main dengan sumpah, ntar kualat loh..” nasihatku entah untuk yang keberapa kali. Acha menanggapinya dengan memamerkan deretan gigi putihnya.

“Iya.. Iya sorry.. Tapi beneran hari ini aku bete.. Dan, kamu pasti tau kan penyebabnya?” tanyanya kemudian. Lalu dengan seenaknya duduk di sofa sampingku.

“Olivia pasti kan??” tebakku sembarangan. Karena selama menjalin persahabatan dengannya,, dari setiap ceritanya padaku. Oliv –adik semata wayangnya– adalah satu-satunya selalu penyebab kekesalan Acha.

“Nah iya bener. Tau gak.. Dari seminggu lalu tuh, aku udah pesen sama dia.. Kalo hari ini jam 3, aku yang nguasain TV, tau kan apa penyebabnya??” lagi-lagi dia menganggatungkan ceritanya. Bertanya pertanyaan konyol, yang jawaban Cuma ada satu.

“Raynald Prasetya?” tebakku asal –lagi– Tapi, seperti tebakan pertamaku. Aku yakin, tebakan yang satu ini pasti akan akurat.

“Yup. My Prince.. Raynald Prasetya, hari ini tampil di acara reality show. Tapi Oliv, ngancurin semuanya.. Masa dia nonton film Aladdin yang notabenebenya, dia punya VCDnnya. Apaan tuh?? Gak adil kan?? Mana Mama belain Oliv.. Huhu.. Bete banget La..” lanjutnya kemudian. Ya ampun, sahabatku yang satu ini, bisa dibilang terobsesi dengan drummer pendatang baru yang sebaya dengan kami. Raynald Prasetya, dengan  rambut gondrong –yang mungkin jadi ciri khasnya– dia telah membuat sahabatku ini sangat tergila-gila dengan kehadirannya.

“Sabar deh Cha.. Kan masih banyak, event-event lain yang guest starnya Raynald..” hiburku. Acha mengangguk pelan, namun langsung memasang wajah cemberut.

“Iya sih.. Tapi masa aku yang seorang admin Ray Ready pusat gak nonton.. Apa kata dunia??” hardiknya, aku  menggeleng pelan. Lalu aku melangkan pelan menuju arah ranjang dan mengambil bantal kecil. Langsung ku lemparkan saja bantal itu tepat ke arah Acha.

“Kata dunia.. Itu sah-sah aja. Lagian mereka toh gak bakal tau kalo kamu gak nonton acara itu” tambahku sambil membuka pintu kamar, hendak ke dapur. Mengambil beberapa snack dan minuman untuk tamuku ini.

“Ah Illa Sakit tau.. Eh, bentar.. Ntar malem ikutan kan?? KANVAS bakal nongkrong di tempat biasa” ujarnya. Aku menghentikan langkahku lalu menoleh padanya.

“Untuk kali ini, aku libur dulu ya?” jawabku sambil memberikan senyum simpul. Acha kembali cemberut. Lalu bergumam pelan.

“Yah.. Ify gak ikut, masa kamu juga gak ikut?? Gak seru ah.. Kalo kamu gak ikut karena ‘Agni’ sih.. Um, sebaiknya kamu ikut. Mungkin dengan ini kalian bisa baikan..” Aku menggelengkan kepala pelan lalu kembali berkata.

“Aku butuh sendirian dulu Cha.. Siapa tau aku dapat wangsit kalo aku sendirian” candaku padanya. Acha tersenyum mendengarnya. Aku pun kembali ke niat awalku, mengambil snack dan minuman.

***

Aku tersenyum senang saat melihat mobil sedan hitam itu memasuki halaman rumahku. Aku tahu benar siapa pengemudinya. Bulir-bulir air mata mulai berkerumun saat dia menghentikan laju mobilnya tepat di depan teras rumah. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan cepat aku berlari menuju lantai bawah. Dan ku harap, akulah orang pertama yang akan membukakan pintu kayu berpelitur itu.

Saat berada diambang pintu, aku mulai menguntaikan doa. Agar harapanku tak sia-sia, belum ada tanda-tanda seseorang memencet bel rumah. Dengan perasaan yang bergejolak, aku memutuskan untuk segera membukanya.

“Papa..” teriakku saat berhasil membuka pintu tersebut. Papa, berada tepat di depanku. Tersenyum penuh bahagia. Beliau menghampiriku, lalu memelukku hangat. Sungguh tenang rasanya ada dalam dekapannya.

“Papa kok gak bilang sama Illa kalo pulang hari ini?” tanyaku sambil mengusap tetes air mata yang mulai berjatuhan. Beliau juga turut mengusap tetes demi tetes air mata, yang tak mau berhenti.

Dia melepaskan pelukannya lalu, berbisik sangat pelan padaku, mungkin dia tak ingin ada yang mendengarnya selain aku. Mungkin dia juga tak ingin kumpulan udara yang kini ada disekitar kami, mendengarnya. Bahkan tanaman-tanaman hias milik Mama mendengernya pula.

“Papa sangat sayang Illa.. Papa janji gak akan pernah buat Illa kecewa lagi, makanya Papa datang”

Aku tersenyum mendengarnya. Beliau mengecup keningku pelan. Lalu, mulai membisikkan sebuah kalimat lagi.

“Jangan bilang siapa-siapa tentang kedatangan Papa ini ya? Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua” Aku tertegun mendengarnya. Papa menatapku, seolah sedang meminta jawaban. Aku mengangguk pelan. Beliau tersenyum, dan beranjak pergi. Masuk kembali ke dalam mobilnya, aku masih terdiam membisu mencerna maksud perkataan yang diucapkannya.

Papa melambai padaku, dan melajukan mobilnya cepat. Secepat angin, hingga tak terlihat jejaknya. Aku kembali meneteskan air mata.

“PAPA…” teriakku, berharap dengan teriakan kepahitan ini, Papa akan kembali dan menghapus air mataku. Memelukku kembali, agar kehangatan yang kubutuhkan kembali terpenuhi.

Aku menutup album foto yang ada ditanganku, bersama dengan menguapnya ingatanku tentang seseorang yang sangat ku nantikan kehadirannya. Yah Papa.. janjinya dahulu untuk tidak akan mengecewakanku tak pernah ditepatinya lagi. Oh Tuhan.. dimana sekarang keberadaan Papaku? Apakah dia baik-baik saja?

“Illa.. kamu ganti baju gih” Tante Angel tiba-tiba duduk disampingku, mengusap cover album yang isinya kenangan tentang beberapa tahun lalu, saat bisnis Papa tak sepesat sekarang. Saat bisnis Papa masih berkisar di kotaku dan kota tetangga terdekat. Kami biasa menghabiskan malam minggu dengan pergi makan malam di luar rumah.

“Eh– buat apa Tante??” Tante Angel tersenyum mendengar pertanyaanku. Dia mengusap puncak kepalaku pelan. Lalu berdiri dari duduknya.

“Melestarikan kebiasaan yang dulu pernah tercipta di keluarga kita” ujarnya, aku tersenyum. Makan malam bersamakah? Mungkin itu maksudnya. Melestarikan kebiasaan yang sudah sangat jarang sejak 2 tahun lalu.

***

Aku mengenakan celana jeans hitam panjang, dengan balutan blouse hijau toska dan cardigan putih. Membiarkan rambut terurai, sembari menyematkan jepit kecil berwarna hijau toska. Aku mematutkan diri di cermin, tak terlalu berlebihan. Cukup simple.

Aku menuruni tangga, sembari melirik jam tanganku. Hampir jam 7 rupanya. Dibawah, sudah siap kak Gabriel yang nampak sibuk dengan hand phone-nya. Tante Angel juga sudah siap, dia membolak-balik majalah dihadapannya, nampak sekali jika ia sedang bingung.

Aku menghampirinya, dan duduk disampingnya. Lalu Mama datang dari arah kamarnya, dengan wajah berbinar.

“Angel, kamu yakin Mas Aris gak akan marah?” tanya Mama pada Tante Angel. Tante Angel tersenyum lalu menatap Mama.

“Mbak kaya yang gak pernah kenal sama Mas Aris, masa sebagai istrinya mbak gak tau watak Mas Aris? Dia gak akan marah hanya karena istrinya yang cantik dan anak-anaknya ini, diajak makan malem sama adik bungsunya mbak” Mama tersipu mendengarnya, lalu menatap kak Gabriel.

“Gab.. Sudah siapin mobil?” tanyanya lembut. Kak Gabriel terkesiap, lalu menaruh hapenya kedalam kantong jaket hitamnya.

“Bukannya dijemput sama kak– ups, Om Riko?” tanya balik kak Gabriel kepada Mama. Mama menatap tante Angel.

“Bener Angel??” Tante Angel tersenyum dan mengangguk. Lalu tak berapa lama terdengar klakson mobil dari arah luar.

“Yuk.. itu pasti Riko” ajak Tante Angel, aku tersenyum, lalu membuka pintu rumah dan menaiki mobil milik Om Riko yang merupakan tunangan dari Tante Angel.

***

Perasaanku bercampur aduk. Resah, Kecewa, dan Penasaran. Disana, di meja paling ujung dekat dengan taman duduk dua sejoli yang sangat aku kenal. Ify dan Alvin.

Ify tampil sangat anggun, dengan balutan gaun selutut berwarna ungu tua, dan Alvin dengan kemeja garis-garis hitam terlihat Nampak tampan. Jujur aku iri. Jika ditanya alasannya adalah, karena aku sebenarnya menyimpan rasa pada Alvin.

“Illa.. Kamu kenapa??” tanya Tante Angel, yang sepertinya menangkap raut wajahku yang tak nyaman. Aku diam tak menjawab, hanya tersenyum tipis dan mengaduk-aduk cappuccino dihadapanku.

Entah darimana datangnya rasa yang amat menyesakkan ini, saat melihat tawa renyah mereka, mata Alvin yang begitu berbinar saat ada disamping Ify, dan Ify yang nampak tertawa lepas, tanpa ada paksaan.

‘Alvin.. Ify..’ aku membatin nama mereka berdua. Nama yang telah mengisi hari-hariku. Nama yang telah membuatku nyaman dengan duniaku. Alvin, teman kecilku yang entah mengapa kami selalu satu sekolah sejak TK. Dan, dia juga adalah orang pertama yang membuatku mengenal apa itu cinta. Ify? Tentu sahabatku, salah satu anggota KANVAS, yang dengan motto usulannya membuatku lebih meghargai apa itu PERSAHABATAN.

“Aku permisi mau cuci tangan dulu” pamitku pada mereka yang kini tengah asyik mengobrol. Mereka mengangguk tanpa sedikit pun menoleh padaku, kecuali tante Angel yang dari raut wajahnya tampak bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku.

***

Mungkin inilah yang orang maksud sebagai Patah hati. Aku memang belum tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di café ini. Tapi dari kedekatan yang aku lihat, aku sangat yakin. Mereka memiliki hubungan yang aku sendiri hanya bisa berharap itu tak terjadi.

Buliran air mata, kembali merembes. Meski sudah ku coba tahan keperihan yang sejak tadi memenuhi rongga-rongga tubuhku, namun itu sia-sia. Perih, aku tak tahan. Mungkin aku egois, tapi salahkan jika aku mengharapkan Alvin tidak bersama seorang gadis selain aku? Dan kenapa gadis itu harus Ify? Ify yang notabenenya adalah sahabatku terdekatku. Sahabat yang selama ini paling sering bersama denganku.

“Illa??” suara itu mengagetkanku, sang pemilik tepat berada disampingku, aku meliriknya dari cermin yang ada di toilet. Dia nampak heran dengan keadaanku yang terlihat sekali kacau. Aku mengambil lebih banyak tissue dan menghampus rembebesan air mata yang jatuh tanpa permisi itu.

“Kamu gak pa pa??” tanyanya sambil membelai pundakku. Aku tersenyum, dan menatapnya sebentar.

“Cuma kelilipan kok, gak kenapa-kenapa” jawabku berbohong. Sebenarnya berada dihadapan Ify kali ini, aku ingin sekali menangis lebih kencang. Tapi dengan segenap kekuatan yang ku miliki aku mencoba menahannya.

“Aku gak percaya” sanggahnya cepat. Ya, tuhan.. sebegitu kelihatannya kah kebohonganku padanya? Apakah aku memang tak pandai berbohong, hingga Ify pun mengetahui kebohonganku itu. Aku diam, menundukkan kepala.

“Aku gak maksa kok, aku bakal nunggu kamu sampe siap buat cerita” katanya pelan. Ada sedikit kelegaan menyusup begitu saja. Karena itu berarti aku tidak harus berbohong, dan diketahui lagi.

“Kamu kesini sama siapa??” tanyaku kemudian. Mungkin ini adalah pertanyaan terbodohku. Pertanyaan yang nantinya malah akan membuatku lebih sakit lagi.

“Alvin.. Um– barusan dia nembak aku” katanya dengan berbinar-binar, aku tertohok merasa terpojokkan. Karena ketakutanku ternyata telah menjadi kenyataan. Alvin, mencintai Ify.

“Aku nerima dia. Jujur, beberapa minggu terakhir aku memang deket sama dia. Karena aku ngerasa nyaman, jadi aku terima dia buat jadi pacar aku. Pacar pertamaku. Menurut kamu gimana? Pilihanku bener?” lanjut Ify. Aku mengangkat kepala, dan mengangguk meng-iyakan. Lalu mengulurkan tanganku pada Ify, yang langsung disambutnya dengan cepat.

“Selamat ya Fy.. Longlast sama Alvin” ucapku. Ify tersenyum, lalu memelukku.

“Makasih La.. Kamu memang sahabat terbaikku” bisiknya. Aku tersenyum getir, memejamkan mata berharap ini hanya mimpi buruk yang terjadi sesaat. Dan saat aku bangun, Ify dan Alvin tak pernah menjalin hubungan. Aku memang egois..


To be continue…


Read more "Sang Hujan -Part 2-..."

Kertas Putihku

Desiran angin terbangkan kertas putih
kucoba ikhlaskan menatapnya hilang
masih terpaku masih menunggu
adakah kertas putih menoleh padaku???
Tak sempat kugoreskan tinta hati padanya
tak sempat kulukis pelangi untuknya

kertas putih pergi mencari pelukisnya
kertas putih..
Apa aku tak pantas menjadi bagianmu?
Apa aku tak pantas menitikkan sedikit tinta hatiku?
Apa aku benar tak berarti untukmu?

Aku memang hanya tinta kusam yang malang
mencoba menorehkan warna di putihmu
dan..
Tersenyum getir menatapmu telah berwarna..




Oleh : Watashiwa Roro Desu Read more "Kertas Putihku..."

Cinta Dalam Diam

Mungkin ini yang terbaik untuk keadaan yang ada, tapi tidak untuknya. Sudah hampir tiga tahun dia diam, diam dalam menyembunyikan tentang isi hatinya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Seandainya dia lebih cepat atau dia lebih berani untuk mengungkapkan yang sebenarnya, pasti dia akan mendapatkan apa yang ia mau, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi dan waktu terus berjalan, bukannya perasaan itu semakin berkurang, tapi makin menanmbah hingga sering kali menimbulkan rasa sakit yang sangat dalam di hatinya. Hanya diam yang bisa dilakukannya untuk menjaga perasaan orang-orang disekitarnya. Mungkin tidak ada lagi yang bisa membantunya melupakan apa yang ia mau karena semakin ia ingin melupakan, maka perasaan itu semakin menjadi dan semakin menyakitinya. Seakan tersperangkap di ruangan yang kosong dan tidak satupun terdapat pintu disana, ibarat itulah dirinya sekarang. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa diam. Cinta dalam diam.

Dicintai orang yang dia tidak cintai tentu semakin membuatnya tersiksa, tapi dia lakukan ini untuk menyembunyikan perasaan itu dan hasilnya tidak memuaskan sama sekali. Dia semakin terperangkap dalam diam. tujuannya adalah untuk melampiaskan perasaannya pada orang yang ia tidak cintai itu karena dia tidak bisa memiliki orang yang ia cintai namun tidak mencintainya. Keadaan ini sungguh membuatnya tersiksa, dia tidak mencintai orang itu sama halnya makin menyiksa perasaannya sendiri ditambah lagi dia ingin segera mengakhiri hubungan ini, tapi salah lagi, karena orang yang mencintainya itu terlalu baik padanya, bahkan melebihi perhatian mamanya saat orang itu berada disampingnya. Cinta memang begini adanya, sungguh menyiksa hingga ia harus terus menerus terdiam entah sampai kapan. Dia masih meragukan kalau dia harus jujur -pada orang-orang yang bersangkutan- apakah keadaannya makin membaik atau makin memburuk? Namun keadaan yang memburuk yang terlebih dahulu menguasai pikirannya hingga ia hanya bisa kembali diam.

Sekolah ini akan menjadi saksi. Saksi tentang perasaannya yang sudah lama dia pendam dan sebentar lagi sekolah ini hanya mampu menghadiahinya sebuah kenangan pahit yang harus dilaluinya selama tiga tahun. Teringatlah dia saat pertama kali melihat ciptaan Tuhan itu yang datang dengan seragam barunya dan pastinya semua terlihat baru. Hari itu hari pertama masuk sekolah, orang yang dicintainya itu berjalan di koridor dengan wajah yang sedikit ditekuk, rupanya dia sedang cemas menghadapi hari pertamanya, meskipun wajahnya terlihat tegang, tapi dia hanya bisa tersenyum memandangnya dari kejauhan, dia bukanlah orang yang bisa menenangkannya saat itu, dia bukanlah orang yang bisa menghiburnya dan berjalan disampingnya sampai tiba di kelasnya. Sejak saat itu dia menyimpan perasaan menyakitkan itu dan membawanya dan menyimpannya baik-baik selama hampir tiga tahun.

Adelia. Nama yang indah sesuai dengan wujudnya. Rambut yang panjang, berwarna hitam dan bermodel sossis seperti rambut-rambut para bintang film, tapi sesungguhnya rambutnya itu alami tanpa bantuan salon sedikitpun. Dagunya runcing, berhidung mancung,bermata bulat,dan kulit berwarna sawo matang, semuanya seakan sempurna untuk ditatap . Dialah orang yang ia cintai dalam diam. Dia tahu tempat kesukaan Adel tiap isitirahat. Di bawah pohon di depan teras kelasnya. Adel suka duduk di bawah pohon itu , di atas bangku panjang yang tersedia disana, dia selalu menghabiskan waktu istirahatnya di tempat itu sambil membaca buku, mungkin semacam novel. Terkadang ia melihatnya tampak sangat serius, terkadang cemberut, terkadang marah, terkadang tertawa dan terkadang juga tersenyum sendiri saat mulai terlarut dalam bacaannya. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu dan mengobrol dengannya sampai waktu istirahat selesai. Namun dia tidak bisa melakukannya, untuk berdiri (berniat mendekatinya) dia sampai gemetar apalagi ketika teman-teman Adel mulai menghampiri gadis itu dan mengganggu ketenangan gadis itu hingga ia kesal dan cemberut, hal itu semakin membuat niatnya ciut untuk mendekati gadis itu.. Satu lagi, dia sangat senang melihat Adel jika sedang cemberut karena kedua pipinya selalu terlihat digempungkan yang menambahkan kesan imut diwajahnya.

“Kevin” seseorang menyerukan namanya. Dia yang bernama Kevin berbalik ke asal suara yang memanggil namanya. Orang itu Nesya, Nesya yang selalu ada saat dia sedih, Nesya yang selalu ada disaat dia bosan, Nesya yang selalu ada disaat dia kesepian, Nesya yang selalu ada disaat dia sakit, disaat dia kebingungan, dan disaat dia butuh perhatian, tapi kenapa dia tidak bisa mencintai sosok gadis yang sangat baik itu?. Cinta memang aneh. Kevin tersenyum memandangi kekasihnya yang sama sekali tidak dicintainya, dia sadar dia sudah berdosa dalam hal ini (mencintai orang yang ia tidak cintai hanya untuk pelampiasan saja) . senyum yang lahir dari bibirnya pun hanya sebagai senyuman dusta yang sesungguhnya tidak ingin dia berikan pada gadis yang kini sudah ada didepannya, menatapnya dengan senyum yang merekah dibibirnya seakan-akan mengisyaratkan bahwa dialah orang yang paling bahagia di dunia karena bisa memiliki orang yang ia cintai, Kevin.Namun, Kevin tidak sebahagia Nesya, senyum Kevin tidak setulus senyum Nesya, semua yang Nesya rasakan sama sekali tidak dirasakan oleh Kevin.semua hanya tersimpan dalam diam. 

Ingin rasanya Kevin mengutuk dirinya sendiri karena sudah berani membohongi gadis seperti Nesya yang mau mencintai dirinya dan sealu ada setiap saat untuknya walau Kevin tidak pernah meminta itu. Bagaimana nantinya kalau perasaan Kevin selama ini terungkap? Sungguh Kevin tidak kuasa melihat setetes pun air mata yang mengalir dipipi seorang gadis beranama Nesya. Dia memang salah, tapi dia tidak tahu harus bagaimana untuk mengakhiri semua ini? Dia ingin semuanya berakhir dengan indah, tapi sulit rasanya menjadikannya indah disaat keadaannya sudah seperti ini, lagi-lagi Kevin berfikir untuk diam. 

“Kev, ini aku bawain kamu cake, dimakan yah?” begini perhatian Nesya yang selalu saja membuatnya tersiksa, karena dia ingin memutuskan hubungan ini, tapi kembali tidak bisa saat gadis itu berbuat baik padanya.Kevin menerima sekotak cake chocolate yang diberikan Nesya dan membukanya lalu melahapnya ketika itu juga. Kevin memuja cake pemberian Nesya itu sehingga membuat gadis itu tersenyum dengan kedua pipi yang merah merona. Nesya sungguh mencintai Kevin, tapi Kevin tidak sungguh-sungguh mencintai Nesya. Sampai kapan cerita pahit ini akan berlanjut?. 

Disisi lain, Adel masih sibuk dengan buku yang dibacanya dengan serius di bawah pohon itu. Sesekali Kevin meliriknya selagi Nesya sibuk dengan Handphonenya. Adel memang selalu menarik perhatian Kevin, walaupun Kevin sudah berusaha keras untuk tidak memerhatikanya untuk sekali saja, tetap saja tidak bisa. Jika tak melihat gadis itu sekali saja, rasanya kepalanya seakan ingin pecah. 

Pelajaran terakhir kali ini, guru Biology tidak masuk mengajar di kelas Kevin, akhirnya kelas itu jadi ribut dan kebanyakan dari murid-muridnya malah sibuk sendiri. Kevin yang sedang serius membaca komic saat itu tiba-tiba terusik dengan cerita teman-temannya yang lain yang sedang menyebut-nyebut nama Adelia. Kevin penasaran dan iseng-iseng ikut gabung dengan segerombolan cowok itu. Setelah mendengar cerita-cerita mereka, ternyata sohib Kevin yang bernama Juno menyukai Adel dan Adel juga menyukai Juno. Bukankah itu bagus, kan? tapi tidak bagus untuk Kevin yang akhirnya hanya terdiam saja mendengar cerita dari kawan-kawannya itu.


Betapa bahagianya kalau saja Kevin berada di posisi Juno.. Dia akan berteriak sekencang-kencangnya agar semua manusia di muka bumi ini bisa mendengarnya bahwa dia ingin memiliki Adel, dia mencintai gadis itu, dia akan mencintai gadis itu apa adanya walaupun yang dia tahu satu-satunya kekurangan Adel bahwa dia tidak mempunyai kekurangan satupun. Tapi, nampaknya keadaan ini semakin rumit jadinya, Kevin hanya bisa diam lagi, dia hanya bisa menyimpan amarah yang kian membesar dan seakan membakar seluruh tubuhnya. Seharusnya dia lebih belajar lagi untuk bisa mencintai Nesya, dia tidak mungkin bisa memilik Adel kalau seperti ini Adel sudah menyukai orang lain yang tentu saja orang itu juga menyukai Adel. Apa yang salah lagi? Mereka saling menyukai, tentunya Juno tidak seperti Kevin, tidak bisa menyimpan perasaan dalam diam. 

Hari ini tiba, Hari yang mengerikan untuk Kevin, namun har ini akan terlewati juga. Seketika dia melihat namanya dideretan ke 10 yang termasuk daftar murid-murid yang lulus. Bukan sorakan yang keluar dari mulutnya melainkan helaan nafas yang mengisyaratkan dia masih belum rela meninggalkan cerita di sekolah ini. Bukanya tidak ingin lulus, tapi Kevin masih belum rela karena akhir cerita cinta dalam diamnya akan berakhir tanpa hasil. 

Nesya bilang, dia ingin putus. Bukankah itu kenginan Kevin? Memang keninginannya, tapi Kevin belum bisa memberitahukan yang sebenarnya kepada Nesya kalau selama ini dia menyakiti Nesya, bukan mencintainya. Dan saat ini Nesya akan berangkat ke Jerman, dia akan melanjutkan sekolahnya disana, dan dia tidak sanggup untuk pacaran long distance sampai akhirnya dengan terpaksa Nesya mengakhiri hubungan itu. Mungkin inilah diri Kevin yang sebenarnya, yang lebih baik disebut ‘pengecut’ dia sadari itu. Tapi dilain pihak dia memang baik karena tidak ingin menyakiti Nesya dan dia juga sudah memberikan kesempatan pada gadis itu untuk menjadi kekasihnya, walaupun Kevin tidak pernah merasa ada yang indah dalam hubungan mereka. Sampai akhirnya seperti ini, semuanya berakhir masih dalam diam. Kevin masih saja diam, dia belum berani bicara untuk mengatakan yang sebenarnya sampai Nesya meninggalkan sekolah itu setelah memberikan pelukan terakhir untuk Kevin. Seharusnya saat itu Kevin merasakan sesuatu yang membuatnya sedih karena akan kehilangan seorang kekasih yang sudah dua tahun menemani disetiap harinya, namun yang sebenarnya dia tidak merasakan apa-apa, tidak ada rasa yang menggelitiknya ataupun kata-kata perpisahan yang mampu membuat Nesya melting, sama sekali tidak diucapkannya. Dia hanya bisa mengatakan “Hati-hati disana” .mungkinkah rasa kebencian pada dirinya sendiri itu yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi? Dia tidak tahu kata-kata apa lagi yang bisa ia ucapkan karena dia sama sekali tidak bisa bohong lagi kalau saja dia harus berkata yang romantis untuk perpisahan kali ini, karena dia tidak pernah bisa mencintai Nesya. 

Beberapa langkah lagi, Kevin akan keluar dari gedung sekolah ini. Sekolah yang pertama kalinya mempertemukannya dengan gadis yang dia cintai namun tidak mencintainya, Adelia. Bisakah suatu saat dia memiliki gadis itu? Bisakah ia merasakan bahagia yang timbul dari rasa cinta yang sesungguhnya ? bisakah ia dicintai dengan orang yang ia cintai?. Semuanya seakan mustahil. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya, suara yang familier untuknya, suara yang ingin dia dengar dengan berkata “hei, tunggu”. Benarkah itu dia?.

Kevin berbalik dan menemukan sosok yang benar-benar membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari yang biasanya, inilah cinta. Sesaat kemudian, dia sudah merasa seperti melayang-layang ke udara saat melihat senyum yang sangat tulus yang lahir dari bibir munyil seorang gadis di depannya.

“sebelum pulang, tanda tangan dulu. Nih” gadis itu memberikan Kevin sebuah spidol berwarna biru dan menyuruhnya bertanda tangan di seragamnya yang sudah penuh dengan tanda tangan teman-teman yang lain. Gadis itu menyuruhnya tanda tangan di bagian lengan seragamnya. Dengan sedikit gemetar dan perasaan tidak karuan, akhirnya Kevin bisa merasakan dekat dengan jarak 7 cm saja dari orang yang dicintainya. Adelia. Bahkan dia bisa mencium bau parfum yang dipakai Adel,bau wangi itu semakin memperkuat detakan jantungnya yang bisa-bisa dengan reflex langsung meluncur keluar dari tempatnya.

Setelah selesai bertanda tangan, Kevin tersenyum, kali ini dia benar-benar tulus tersenyum. Kemudian, spidol yang masih berada ditangannya langsung dirampas oleh Adel lalu gadis itu kebingungan mencari tempat diseragam Kevin unuk bertanda tangan, karena sesungguhnya seragamnya itu masih bersih tanpa tanda tangan satupun. Sepertinya Adel bisa membaca pikiran Kevin saat gadis itu bertanda tangan di seragam Kevin tepatnya di bagian dada sebelah kirinya. 

“Sudah, thanks yah” ucap Adel sambil menutup spidolnya kemudian tersenyum pada Kevin. Senyum yang terindah yang pernah Kevin lihat sehingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa selama Adel ada didepannya.

Kemudian, cewek itu berlari menjauh dan mendekati seorang cowok yang menjadi kekasih Adel sekarang, Juno. Mereka bergandengan tangan bersama dan tampak sangat bahagia, meskipun begitu, Kevin tidak merasa sia-sia lagi karena akhir harinya di sekolah ini, dia bisa mendengar Adel ngomong padanya untuk pertama kalinya selama mereka berada dalam satu sekolah ini. 

Kevin memegang dada sebelah kirinya, meremas kain seragamnya yang ternodai dengan spidol berwarna biru dengan bentuk tanda tangan orang yang ia cintai. Dia berjanji akan menyimpan baju itu dengan rapi dan tidak seorang pun yang akan ia biarkan mencoreti baju itu sampai akhirnya, selesai melihat Adel pergi menjauh dengan Juno, Kevin langsung pulang karena takut akan ada teman-teman yang lain yang ingin bertanda tangan di seragamnya.

Meskipun cinta dalam diam, Kevin sudah bisa merasa sedikit legah karena akhir cinta dalam diamnya itu mampu membuatnya bahagia diakhir hari sekolahnya pada tingkat SMP.saat pertama kalinya dia berada sangat dekat dengan orang yang ia cintai, meskipun orang itu sudah mencintai orang lain. Semenjak itu, Kevin memutuskan untuk meneruskan perjalanannya untuk menunggu Adel, kali ini dia akan berusaha untuk tidak mencintai dalam diam lagi. Suatu saat, jika dia sudah dekat dengan Adel, dia akan lebih berani lagi mengungkapkan yang sebenarnya. Cinta dalam diam berakhir indah meskipun tidak bisa termiliki, karena sesungguhnya, cinta itu juga tidak harus memiliki. 


-THE END-



Oleh : Ichapuccinno Tazmanivers IclGabfcrisefzrr  Read more "Cinta Dalam Diam..."
 

Great Morning ©  Copyright by Short Story Lesson "Magazine" | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks