Mungkin ini yang terbaik untuk keadaan yang ada, tapi tidak untuknya. Sudah hampir tiga tahun dia diam, diam dalam menyembunyikan tentang isi hatinya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Seandainya dia lebih cepat atau dia lebih berani untuk mengungkapkan yang sebenarnya, pasti dia akan mendapatkan apa yang ia mau, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi dan waktu terus berjalan, bukannya perasaan itu semakin berkurang, tapi makin menanmbah hingga sering kali menimbulkan rasa sakit yang sangat dalam di hatinya. Hanya diam yang bisa dilakukannya untuk menjaga perasaan orang-orang disekitarnya. Mungkin tidak ada lagi yang bisa membantunya melupakan apa yang ia mau karena semakin ia ingin melupakan, maka perasaan itu semakin menjadi dan semakin menyakitinya. Seakan tersperangkap di ruangan yang kosong dan tidak satupun terdapat pintu disana, ibarat itulah dirinya sekarang. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa diam. Cinta dalam diam.
Dicintai orang yang dia tidak cintai tentu semakin membuatnya tersiksa, tapi dia lakukan ini untuk menyembunyikan perasaan itu dan hasilnya tidak memuaskan sama sekali. Dia semakin terperangkap dalam diam. tujuannya adalah untuk melampiaskan perasaannya pada orang yang ia tidak cintai itu karena dia tidak bisa memiliki orang yang ia cintai namun tidak mencintainya. Keadaan ini sungguh membuatnya tersiksa, dia tidak mencintai orang itu sama halnya makin menyiksa perasaannya sendiri ditambah lagi dia ingin segera mengakhiri hubungan ini, tapi salah lagi, karena orang yang mencintainya itu terlalu baik padanya, bahkan melebihi perhatian mamanya saat orang itu berada disampingnya. Cinta memang begini adanya, sungguh menyiksa hingga ia harus terus menerus terdiam entah sampai kapan. Dia masih meragukan kalau dia harus jujur -pada orang-orang yang bersangkutan- apakah keadaannya makin membaik atau makin memburuk? Namun keadaan yang memburuk yang terlebih dahulu menguasai pikirannya hingga ia hanya bisa kembali diam.
Sekolah ini akan menjadi saksi. Saksi tentang perasaannya yang sudah lama dia pendam dan sebentar lagi sekolah ini hanya mampu menghadiahinya sebuah kenangan pahit yang harus dilaluinya selama tiga tahun. Teringatlah dia saat pertama kali melihat ciptaan Tuhan itu yang datang dengan seragam barunya dan pastinya semua terlihat baru. Hari itu hari pertama masuk sekolah, orang yang dicintainya itu berjalan di koridor dengan wajah yang sedikit ditekuk, rupanya dia sedang cemas menghadapi hari pertamanya, meskipun wajahnya terlihat tegang, tapi dia hanya bisa tersenyum memandangnya dari kejauhan, dia bukanlah orang yang bisa menenangkannya saat itu, dia bukanlah orang yang bisa menghiburnya dan berjalan disampingnya sampai tiba di kelasnya. Sejak saat itu dia menyimpan perasaan menyakitkan itu dan membawanya dan menyimpannya baik-baik selama hampir tiga tahun.
Adelia. Nama yang indah sesuai dengan wujudnya. Rambut yang panjang, berwarna hitam dan bermodel sossis seperti rambut-rambut para bintang film, tapi sesungguhnya rambutnya itu alami tanpa bantuan salon sedikitpun. Dagunya runcing, berhidung mancung,bermata bulat,dan kulit berwarna sawo matang, semuanya seakan sempurna untuk ditatap . Dialah orang yang ia cintai dalam diam. Dia tahu tempat kesukaan Adel tiap isitirahat. Di bawah pohon di depan teras kelasnya. Adel suka duduk di bawah pohon itu , di atas bangku panjang yang tersedia disana, dia selalu menghabiskan waktu istirahatnya di tempat itu sambil membaca buku, mungkin semacam novel. Terkadang ia melihatnya tampak sangat serius, terkadang cemberut, terkadang marah, terkadang tertawa dan terkadang juga tersenyum sendiri saat mulai terlarut dalam bacaannya. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu dan mengobrol dengannya sampai waktu istirahat selesai. Namun dia tidak bisa melakukannya, untuk berdiri (berniat mendekatinya) dia sampai gemetar apalagi ketika teman-teman Adel mulai menghampiri gadis itu dan mengganggu ketenangan gadis itu hingga ia kesal dan cemberut, hal itu semakin membuat niatnya ciut untuk mendekati gadis itu.. Satu lagi, dia sangat senang melihat Adel jika sedang cemberut karena kedua pipinya selalu terlihat digempungkan yang menambahkan kesan imut diwajahnya.
“Kevin” seseorang menyerukan namanya. Dia yang bernama Kevin berbalik ke asal suara yang memanggil namanya. Orang itu Nesya, Nesya yang selalu ada saat dia sedih, Nesya yang selalu ada disaat dia bosan, Nesya yang selalu ada disaat dia kesepian, Nesya yang selalu ada disaat dia sakit, disaat dia kebingungan, dan disaat dia butuh perhatian, tapi kenapa dia tidak bisa mencintai sosok gadis yang sangat baik itu?. Cinta memang aneh. Kevin tersenyum memandangi kekasihnya yang sama sekali tidak dicintainya, dia sadar dia sudah berdosa dalam hal ini (mencintai orang yang ia tidak cintai hanya untuk pelampiasan saja) . senyum yang lahir dari bibirnya pun hanya sebagai senyuman dusta yang sesungguhnya tidak ingin dia berikan pada gadis yang kini sudah ada didepannya, menatapnya dengan senyum yang merekah dibibirnya seakan-akan mengisyaratkan bahwa dialah orang yang paling bahagia di dunia karena bisa memiliki orang yang ia cintai, Kevin.Namun, Kevin tidak sebahagia Nesya, senyum Kevin tidak setulus senyum Nesya, semua yang Nesya rasakan sama sekali tidak dirasakan oleh Kevin.semua hanya tersimpan dalam diam.
Ingin rasanya Kevin mengutuk dirinya sendiri karena sudah berani membohongi gadis seperti Nesya yang mau mencintai dirinya dan sealu ada setiap saat untuknya walau Kevin tidak pernah meminta itu. Bagaimana nantinya kalau perasaan Kevin selama ini terungkap? Sungguh Kevin tidak kuasa melihat setetes pun air mata yang mengalir dipipi seorang gadis beranama Nesya. Dia memang salah, tapi dia tidak tahu harus bagaimana untuk mengakhiri semua ini? Dia ingin semuanya berakhir dengan indah, tapi sulit rasanya menjadikannya indah disaat keadaannya sudah seperti ini, lagi-lagi Kevin berfikir untuk diam.
“Kev, ini aku bawain kamu cake, dimakan yah?” begini perhatian Nesya yang selalu saja membuatnya tersiksa, karena dia ingin memutuskan hubungan ini, tapi kembali tidak bisa saat gadis itu berbuat baik padanya.Kevin menerima sekotak cake chocolate yang diberikan Nesya dan membukanya lalu melahapnya ketika itu juga. Kevin memuja cake pemberian Nesya itu sehingga membuat gadis itu tersenyum dengan kedua pipi yang merah merona. Nesya sungguh mencintai Kevin, tapi Kevin tidak sungguh-sungguh mencintai Nesya. Sampai kapan cerita pahit ini akan berlanjut?.
Disisi lain, Adel masih sibuk dengan buku yang dibacanya dengan serius di bawah pohon itu. Sesekali Kevin meliriknya selagi Nesya sibuk dengan Handphonenya. Adel memang selalu menarik perhatian Kevin, walaupun Kevin sudah berusaha keras untuk tidak memerhatikanya untuk sekali saja, tetap saja tidak bisa. Jika tak melihat gadis itu sekali saja, rasanya kepalanya seakan ingin pecah.
Pelajaran terakhir kali ini, guru Biology tidak masuk mengajar di kelas Kevin, akhirnya kelas itu jadi ribut dan kebanyakan dari murid-muridnya malah sibuk sendiri. Kevin yang sedang serius membaca komic saat itu tiba-tiba terusik dengan cerita teman-temannya yang lain yang sedang menyebut-nyebut nama Adelia. Kevin penasaran dan iseng-iseng ikut gabung dengan segerombolan cowok itu. Setelah mendengar cerita-cerita mereka, ternyata sohib Kevin yang bernama Juno menyukai Adel dan Adel juga menyukai Juno. Bukankah itu bagus, kan? tapi tidak bagus untuk Kevin yang akhirnya hanya terdiam saja mendengar cerita dari kawan-kawannya itu.
Betapa bahagianya kalau saja Kevin berada di posisi Juno.. Dia akan berteriak sekencang-kencangnya agar semua manusia di muka bumi ini bisa mendengarnya bahwa dia ingin memiliki Adel, dia mencintai gadis itu, dia akan mencintai gadis itu apa adanya walaupun yang dia tahu satu-satunya kekurangan Adel bahwa dia tidak mempunyai kekurangan satupun. Tapi, nampaknya keadaan ini semakin rumit jadinya, Kevin hanya bisa diam lagi, dia hanya bisa menyimpan amarah yang kian membesar dan seakan membakar seluruh tubuhnya. Seharusnya dia lebih belajar lagi untuk bisa mencintai Nesya, dia tidak mungkin bisa memilik Adel kalau seperti ini Adel sudah menyukai orang lain yang tentu saja orang itu juga menyukai Adel. Apa yang salah lagi? Mereka saling menyukai, tentunya Juno tidak seperti Kevin, tidak bisa menyimpan perasaan dalam diam.
Hari ini tiba, Hari yang mengerikan untuk Kevin, namun har ini akan terlewati juga. Seketika dia melihat namanya dideretan ke 10 yang termasuk daftar murid-murid yang lulus. Bukan sorakan yang keluar dari mulutnya melainkan helaan nafas yang mengisyaratkan dia masih belum rela meninggalkan cerita di sekolah ini. Bukanya tidak ingin lulus, tapi Kevin masih belum rela karena akhir cerita cinta dalam diamnya akan berakhir tanpa hasil.
Nesya bilang, dia ingin putus. Bukankah itu kenginan Kevin? Memang keninginannya, tapi Kevin belum bisa memberitahukan yang sebenarnya kepada Nesya kalau selama ini dia menyakiti Nesya, bukan mencintainya. Dan saat ini Nesya akan berangkat ke Jerman, dia akan melanjutkan sekolahnya disana, dan dia tidak sanggup untuk pacaran long distance sampai akhirnya dengan terpaksa Nesya mengakhiri hubungan itu. Mungkin inilah diri Kevin yang sebenarnya, yang lebih baik disebut ‘pengecut’ dia sadari itu. Tapi dilain pihak dia memang baik karena tidak ingin menyakiti Nesya dan dia juga sudah memberikan kesempatan pada gadis itu untuk menjadi kekasihnya, walaupun Kevin tidak pernah merasa ada yang indah dalam hubungan mereka. Sampai akhirnya seperti ini, semuanya berakhir masih dalam diam. Kevin masih saja diam, dia belum berani bicara untuk mengatakan yang sebenarnya sampai Nesya meninggalkan sekolah itu setelah memberikan pelukan terakhir untuk Kevin. Seharusnya saat itu Kevin merasakan sesuatu yang membuatnya sedih karena akan kehilangan seorang kekasih yang sudah dua tahun menemani disetiap harinya, namun yang sebenarnya dia tidak merasakan apa-apa, tidak ada rasa yang menggelitiknya ataupun kata-kata perpisahan yang mampu membuat Nesya melting, sama sekali tidak diucapkannya. Dia hanya bisa mengatakan “Hati-hati disana” .mungkinkah rasa kebencian pada dirinya sendiri itu yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi? Dia tidak tahu kata-kata apa lagi yang bisa ia ucapkan karena dia sama sekali tidak bisa bohong lagi kalau saja dia harus berkata yang romantis untuk perpisahan kali ini, karena dia tidak pernah bisa mencintai Nesya.
Beberapa langkah lagi, Kevin akan keluar dari gedung sekolah ini. Sekolah yang pertama kalinya mempertemukannya dengan gadis yang dia cintai namun tidak mencintainya, Adelia. Bisakah suatu saat dia memiliki gadis itu? Bisakah ia merasakan bahagia yang timbul dari rasa cinta yang sesungguhnya ? bisakah ia dicintai dengan orang yang ia cintai?. Semuanya seakan mustahil. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya, suara yang familier untuknya, suara yang ingin dia dengar dengan berkata “hei, tunggu”. Benarkah itu dia?.
Kevin berbalik dan menemukan sosok yang benar-benar membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari yang biasanya, inilah cinta. Sesaat kemudian, dia sudah merasa seperti melayang-layang ke udara saat melihat senyum yang sangat tulus yang lahir dari bibir munyil seorang gadis di depannya.
“sebelum pulang, tanda tangan dulu. Nih” gadis itu memberikan Kevin sebuah spidol berwarna biru dan menyuruhnya bertanda tangan di seragamnya yang sudah penuh dengan tanda tangan teman-teman yang lain. Gadis itu menyuruhnya tanda tangan di bagian lengan seragamnya. Dengan sedikit gemetar dan perasaan tidak karuan, akhirnya Kevin bisa merasakan dekat dengan jarak 7 cm saja dari orang yang dicintainya. Adelia. Bahkan dia bisa mencium bau parfum yang dipakai Adel,bau wangi itu semakin memperkuat detakan jantungnya yang bisa-bisa dengan reflex langsung meluncur keluar dari tempatnya.
Setelah selesai bertanda tangan, Kevin tersenyum, kali ini dia benar-benar tulus tersenyum. Kemudian, spidol yang masih berada ditangannya langsung dirampas oleh Adel lalu gadis itu kebingungan mencari tempat diseragam Kevin unuk bertanda tangan, karena sesungguhnya seragamnya itu masih bersih tanpa tanda tangan satupun. Sepertinya Adel bisa membaca pikiran Kevin saat gadis itu bertanda tangan di seragam Kevin tepatnya di bagian dada sebelah kirinya.
“Sudah, thanks yah” ucap Adel sambil menutup spidolnya kemudian tersenyum pada Kevin. Senyum yang terindah yang pernah Kevin lihat sehingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa selama Adel ada didepannya.
Kemudian, cewek itu berlari menjauh dan mendekati seorang cowok yang menjadi kekasih Adel sekarang, Juno. Mereka bergandengan tangan bersama dan tampak sangat bahagia, meskipun begitu, Kevin tidak merasa sia-sia lagi karena akhir harinya di sekolah ini, dia bisa mendengar Adel ngomong padanya untuk pertama kalinya selama mereka berada dalam satu sekolah ini.
Kevin memegang dada sebelah kirinya, meremas kain seragamnya yang ternodai dengan spidol berwarna biru dengan bentuk tanda tangan orang yang ia cintai. Dia berjanji akan menyimpan baju itu dengan rapi dan tidak seorang pun yang akan ia biarkan mencoreti baju itu sampai akhirnya, selesai melihat Adel pergi menjauh dengan Juno, Kevin langsung pulang karena takut akan ada teman-teman yang lain yang ingin bertanda tangan di seragamnya.
Meskipun cinta dalam diam, Kevin sudah bisa merasa sedikit legah karena akhir cinta dalam diamnya itu mampu membuatnya bahagia diakhir hari sekolahnya pada tingkat SMP.saat pertama kalinya dia berada sangat dekat dengan orang yang ia cintai, meskipun orang itu sudah mencintai orang lain. Semenjak itu, Kevin memutuskan untuk meneruskan perjalanannya untuk menunggu Adel, kali ini dia akan berusaha untuk tidak mencintai dalam diam lagi. Suatu saat, jika dia sudah dekat dengan Adel, dia akan lebih berani lagi mengungkapkan yang sebenarnya. Cinta dalam diam berakhir indah meskipun tidak bisa termiliki, karena sesungguhnya, cinta itu juga tidak harus memiliki.
-THE END-
Oleh : Ichapuccinno Tazmanivers IclGabfcrisefzrr
Kamis, 28 April 2011
Cinta Dalam Diam
Label:
Cerpen karya Sobat SSL
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Post 

0 komentar:
Posting Komentar