***
Aku memang munafik, selalu menampis segala perasaan yang telah berkelebat dihatiku. Aku memang seorang pecundang, yang tak pernah mau menerima kenyataan bahwa aku telah terhanyut terlalu jauh dalam perasaan yang sebelumnya tak pernah ku rasakan. Sebelumnya aku tak pernah begini, merasakan ada kepingan hilang dalam diriku, saat aku tak melihatmu. Sebelumnya aku tak pernah terombang-ambing dalam kegalauan yang aku sendiri tak tahu apa obatnya. Dan semua itu karena kamu. Entah berapa lama aku harus mempertahankan perasaan ini padamu sang Hujan? Padahal kamu sendiri tak pernah mengharapkan aku memiliki perasaan ini. Memang aku terlalu muda untuk menyimpulkan bahwa semua ini nantinya abadi, bukan hanya sebuah perasaan biasa yang dapat berubah sewaktu-waktu. Tapi aku merasa kamu adalah jawaban tepat dari segala pilihan yang pernah datang dikehidupanku.
Sang Hujan, tahukah kamu berapa liter air mata yang telah kukeluarkan? Tentu saja kau tak akan pernah tahu. Karena aku sendiri pun tak mengetahui jawaban segalanya. Yang perlu kamu tahu aku hanya selalu menggumamkan namamu saatku menangis, karena sebenarnya aku sangat merindukan kedatangan dirimu, kedatangan yang tak pernah di duga. Kedatangan di sela tangisku.
Sudah berapa lama kita berkomunikasi? Aku juga tak mengetahuinya. Hanya sepenggal-sepenggal pembicaraan yang ku ingat. Meski tak semuanya, tahukah kamu aku selalu tersenyum bila mengingatnya. Karena aku merasa melambung jika ada didekatmu, meski tak sedekat kenyataan yang ada.
Aku menulis karena mu, aku berkhayal karena mu. Karena kamu yang membuatku menjadi seperti ini. Aku sama sekali tak menyesal karena saat ini aku lebih biasa berkutat dengan kertas kosong dan pena-pena yang ku punya, mencoba mencurahkan segala pikiran yang ada karena kesenangan atau pun kesedihanku. Mungkin sikap ceriaku di depan semua orang bisa disebut kamuflase, karena di dalam ragaku yang sebenarnya hanya ada kehampaan. Kehampaan yang menjalari setiap sel-sel dalam tubuhku. Hingga membuatku menjadi seperti ini. Seorang yang penuh dengan kamuflase.
Pernah sekali kau mencurahkan isi hatimu. Tapi tahukah kamu? Aku sedih ya sedih. Saat mengetahui apa yang menjadi harapanku harus hancur dalam sekejap. Hanya dalam beberapa patah kata yang kamu ucapkan. Hanya dalam beberapa kalimat yang sudah dapat mewakili apa yang selanjutnya akan kamu ceritakan. Jika kamu tanyakan rasanya? Itu sudah pasti perih. Perih yang dapat membunuh siapapun yang mencoba menantangnya. Tapi aku tak pernah berani untuk melakukannya, yang ku lakukan saat itu hanya diam, dan mengatakan apa yang mampu ku katakan.
Kala itu aku juga masih mengingat dimana kamu selalu menghiburku saat aku tak menyadari bahwa kau sebenarnya menggantikan seseorang yang juga pernah hadir dihidupku. Dengan bijaknya kau mengatakan bahwa, aku akan mampu mengungkapkan perasaanku padanya. Karena itu hanyalah masalah waktu menurutmu. Tapi aku tak sekuat itu, aku tak pernah mengatakannya hingga sekarang. Hingga perasaan itu mulai terkikis dan tergantikan oleh perasaan aneh yang kurasakan jika kita bersama.
Sebuah janjiku sebenarnya tak pernah ku tepati padamu. Aku tak mampu melakukannya, karena aku tak seperti yang ada dibayanganmu. Aku bukan gadis yang mempunyai talenta tinggi, yang dapat mengambulkan permintaan yang terkesan seperti sebuah ungkapan bahwa aku harus menyanggupinya.
Beribu terima kasih tak kan membalas jasamu padaku. Kau yang telah membuatku sadar akan suatu hal penting yang dimiliki semua orang. Kau orang pertama yang membuatku terhenyak dengan kenyataan bahwa aku adalah orang yang kejam. Dan kau jugalah yang akhirnya membuatku kembali ceria. Ceria yang sesusungguhnya bukan hanya kamuflase semata.
Aku tak mampu. Aku tak sanggup, dan Aku tak kan bisa melupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Kenangan yang mungkin sudah terlupa olehmu. Kenangan yang mungkin tak pernah berarti dalam kisahmu. Tapi kau lah sang hujan, penantang sejati yang pernah ku temui. Meski kau sering membuatku menanti dan selalu berharap. Aku tak akan pernah menyesali kehadiranmu dalam kehidupan sementaraku.
Sang Hujan begitulah kau kenang.
Post 

0 komentar:
Posting Komentar