Kamis, 21 April 2011

Sang Hujan -Part 1-

***

Hujan hari ini, tak lebih baik dari kemarin, masih saja deras dan basah. Masih menyisakan sepenggal sesak di dada yang harus aku bawa disepanjang perjalanan ini.

Hujan hari ini, tak berbeda dari kemarin. Di waktu yang sama dan tempat yang sama. Dan apa yang menimpaku sama sekali tak berubah, masih saja paru-paru ini disesakkan oleh udara yang entah kenapa tak mau berkumpul disaat aku, seperti ini.

Kerikil kecil jalanan, menemaniku menikmati hujan, hujan yang lagi-lagi harus datang di saat siang hari menjelang, saat aku harus pulang ke rumah, setelah menuntut ilmu di sekolah.

“Illa…..” suara itu memanggil namaku, suara kecil yang dipaksakan berteriak karena derasnya hujan. Bahkan suara kecil itu berhasil menggema mengalahkan suara hujan. Aku mengenal pemiliknya. Yah sangat mengenalnya. Ku balikkan tubuh ini, menghadap datangnya suara itu. Dan benar dia disana, dijarak kira-kira 100 meter dari tempatku, di pertigaan jalan dengan payung kuning andalannya, berlari kecil menghampiriku. Percikan-percikan air menciprat baju putih abu-abu yang dikenakannya, seolah tak peduli dia tetap berlari untuk menyusulku.

“Doyan banget hujan-hujanan sih??” ujarnya bersungut-sungut sambil memayungi kepalaku. Aku tersenyum kecil melihat sosok sahabat yang kelewat perhatian ini. Rambut di kuncir dua, dengan lesung pipit di kedua pipinya, dan kacamata teba. Semual yang dikenakannya adalah ciri khas tetangga sekaligus teman sekolahku pemilik nama indah ‘Sivia Azizah’. Jangan disangka dengan penampilannya itu dia anak cupu, yang seperti di film-film. Namun ini kebalikannya dia tampak sangat manis dengan penampilannya seperti ini.

“Um, kok diem aja sih?? Masih marah soal tadi??” tanyanya lagi saat diantara kami tak terjadi percakapan selama beberapa menit.

“Lupain aja lah, lagiankan tadi emang Cuma dibutuhin 5 orang. Dan aku harus ngalah juga kan” jawabku sambil mencoba menarik sudut bibir ini keatas, mencoba memberikan senyum kecil, yang mungkin sangat jelek jadinya. Via hanya diam menanggapi pernyataanku.

‘Tapi mengapa harus aku yang keluar?? Apakah hanya aku yang boleh mengalah?? Sedang kamu sahabat yang menurutku sangat perhatian pun, tak pernah sekali pun pusing-pusing saat ada tugas kelompok, yang anggotanya hanya 5 orang’ batinku sedih sembari menatap Via sebentar.

“Um, terus kamu bakal kerja bareng siapa??” tanya Via lagi, yang langsung membuat aku tertohok. Bodohnya aku, tadi malah menyempatkan membuang-buang air mata di toilet, hanya karena mereka seperti meniadakanku lagi. Lalu dengan siapa aku harus mengerjakan tugas Biologi itu??

“Belom dapet ya??” Kali ini Via, seolah membaca mimik wajahku, yang harus ku akui, sangat khawatir.

“Udah coba sama kelompoknya Zahra?? Kayaknya mereka kurang 1 orang deh” lanjutnya.

“Nanti aku coba sms dia” jawabku singkat. Kami hanya terdiam setelahnya, dan berpisah tepat di depan Pohon Beringin besar, yang menjadi patokan antara jalan rumahku yang harus ku lanjutkan menuju utara, dan Sivia yang menuju arah Selatan.

***

“Hujan-hujanan lagi??” tanya Mamaku sambil berkacak pinggang di ambang pintu, aku menundukkan kepalaku saat suaranya yang tajam menyambar begitu cepat.

“Maaf..” ujarku pelan, dia tampak mendesah lalu mengangkat daguku, menghadapnya.

“Sudah berapa kali Mama bilang agar kamu bawa payung kalo ke sekolah!!! Apa susahnya sih? Toh juga payung beratnya gak sampe sekilo. Heran mama sama kamu” katanya sambil menggeleng-geleng. Ah, selalu begini kejadiannya saat hujan. Aku harus dihakimi di depan rumah, yang sungguh sudah kuhafal celotehan berikutnya dan berikutnya. Dan nantinya toh, aku disuruh cepat mengganti pakaian agar tak sampai jatuh sakit.

“Shilla, kamu ini sudah remaja. Harusnya dapat memilah mana hal yang baik untukmu dan tak baik untukmu. Jangan bertingkah seperti anak kecil yang senang bermain di air hujan” bentaknya sekali lagi. Dan aku yakin sebentar lagi dia akan memuji-muji kakakku, dan membandingkannya denganku.

“Coba lihat Gabriel, meski dia anak lelaki, dia itu selalu menuruti perintah Mama, tidak seperti kamu yang membangkang, dan selalu menghiraukan yang Mama ucapkan!! Contoh kakakmu itu, anak yang sangat berbakti pada orang tua” Betulkan yang ku bilang? Kak Gabriel selalu dijadikan ukuran anak berbakti yang diidamkan Mama. Aku? Tentunya hanya segumpal ketombe yang merusak hidup Mamaku.

“Boleh aku masuk Ma?? Udara disini dingin” ucapku cepat sebelum celotehan-celotehan yang kuhafal itu akan terus berlanjut. Mama menatapku tajam, dan mengangguk.

“Mulai besok tak ada lagi jalan kaki selama pulang sekolah. Gabriel akan menjemputmu” teriaknya saat aku akan menaiki tangga. Oh, Tuhan.. Jadi mulai besok aku tak dapat menikmati hujan seperti biasanya??

***

Ku rebahkan tubuhku di atas kasur kesayanganku, menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan bintang kecil-kecil yang akan menyala dalam gelap, yah aku suka bintang sangat menyukainya. Melebihi aku suka pada hujan.

“Ilaa??” suara lembut itu menyapaku. Suara lembut milik malaikat cantik yang sangat aku sayangi. Bukan suara Mama yang selalu menggelegar bagaikan petir, tapi ini suara tante kesayanganku. Tante Angel namanya, adik semata wayang Papa yang umurnya masih 25 tahun, jarak umurnya dengan Papaku sangatlah jauh. Berbeda 20 tahun, cukup aneh bukan?? Namun menurutku itu sah-sah saja. Bahkan Tante Angel selama ini menjadi tempat curhatku selain…. Ehm, ‘dia’.

“Ya Tante??” jawabku seraya membuka pintu kamar, yang kebetulan aku kunci saat aku memasukinya.

“Ini teh hangat kesukaan kamu, kebetulan tadi tante ke Mall, jadi inget kalo persediaanya sudah habis.” Katanya sembari memberikan nampan kecil berwarna putih pucat itu. Aku menerimanya dan menaruhnya di meja kecil disamping ranjang kamarku, lalu duduk di sofa kecil yang menghadap keluar jendela, yang tampaknya dipenuhi dengan embun.

“Gak diminum??” tanya Tante Angel sambil mengusap puncak kepalaku. Aku tersenyum tipis padanya lalu kembali menatap jendela yang dipenuhi embun.

“Gimana hari ini? Masih dicuekin juga?” ujar Tante Angel pelan, aku lagi-lagi tersenyum, senyum miris yang menandakan aku sudah pasrah.

“Agni masih marah, aku gak tahu salah apa Tante..” jawabku sedikit merengek. Tante Angel yang mungkin lebih cocok menjadi kakakku ini, tersenyum sangat manis.

“Gak usah dipikirin yah?? Kan kamu sendiri tau, Agni itu gimana? Kata kamu, dia itu orang yang moody yang sering banget marah gak jelas??” hibur Tante Angel, aku menunduk. Benar memang begitulah sikap Agni, tapi perlu dicatat. Itu Cuma berlaku untukku, kepada yang lain?? Dia tampak baik-baik saja. Jarang sekali marah pada mereka.

Aku menatap Tante Angel, terlihat mata bening yang begitu meneduhkanku. Ah.. Tante, andai saja Mama, sepertimu. Akan sangat indah hidupku. Benar Mama memang bukan wanita karir!! Tapi dia sama sekali tak punya waktu untukku.

Tante Angel berdiri dari duduknya, lalu mengambil cangkir yang ku letakkan di meja tadi.

“Diminum dulu, biar kamu lebih tenang” perintahnya, ku ambil cangkir dari tangannya dan menyesapnya perlahan. Aroma melati menyebar dengan kehangatan yang sangat aku suka. Membuatku lebih tenang, dan sejenak berusaha melupakan apa yang terjadi tadi.

“Tadi Papa kamu telfon, katanya gak bisa pulang minggu ini” ujar Tante Angel kemudian. Lagi dan lagi ini terjadi Papa yang sangat aku sayangi tak bisa pulang. Ah, tahukah perasaanku?? Sungguh aku sangat rindu padanya. Terakhir aku bertemu juga, saat libur semester 1, itu pun hanya 1 hari.

“Jangan sedih. Keponakan tante yang cantik ini, jangan cemberut gitu, entar cepet tua loh” guraunya. Aku mencoba tersenyum, meski aku tau senyum yang kuberikan sangat terpaksa.

***

Terdengar bunyi klik pelan pada layar Laptopku, ‘dia’ tampaknya sedang online di YM. Tanpa sadar sebuah senyum telah tersungging di bibirku.

Rain : R U still there??

Ku ketikkan kalimat balasan di diatas keyboarku.

Sh_iLLa : Sure boy….
Rain : Um, what happen today??

Haruskah aku membahas masalah yang sama untuk kedua kalinya?? Oh Tuhan.. Biarkan aku terbebas dari masalah ini. Aku hanya ingin hidup normal.

Sh_iLLa : Like yesterday, there isn’t a differences :(
Rain : Be Patient girl… I hope she will changed soon. Keep smile :)
Sh_iLLa : Thanks boy, um. Can we change our topic?? I bored to tell about her now.. Please.. :)
Rain : Of course we can. Um, what are you doing??
Sh_iLLa : Just sit in front of Laptop, and enjoy the sound of rain, How about you??
Rain : You always like that. Me?? Doing my homework. :D
Sh_iLLa : Oh… Am I disturb you??
Rain : No… No… May be you can help me, if you want.
Sh_iLLa : Yup.. Whats the Question??
Rain : Actually, Just the simple Question, but I cannot give a perfect answer.
Sh_iLLa : Ups.. so, whats the Question??

Tak ada jawaban?? Sudah offline kah ‘dia’?? Padahal aku masih ingin mengobrol dengannya. Jujur saja, dia satu-satunya lelaki yang dekat denganku. Dan juga bisa dibilang, orang pertama.

Sh_iLLa : Boy?? Are you still there??
Sh_iLLa : Hello…………………………………………
Sh_iLLa : R
Sh_iLLa : A
Sh_iLLa : I
Sh_iLLa : N

Masih tak ada jawaban. Kemana dia??

Rain : Sorry, just now, my Momma call me for help her to buy a juice. Hehe :D
Sh_iLLa : Oh never mind.. and whats your homework??
Rain : Haha, forget it. I will do it by my self.
Sh_iLLa : Okay.. By the way, where do you study??
Rain : Hehe.. SECRET :P its my privacy
Sh_iLLa : Always like this…
Sh_iLLa : You’re a stingy person :P
Rain : Yeah.. But, you like me.. right?? ;)
Sh_iLLa : Not to much.. Cause sometimes you be a disgusting person…
Rain : Yup, and you’re a whiny person :P
Sh_iLLa : Stop mocking me !!
Rain : Shilla Whiny girl..
Rain : Shilla Whiny girl..
Rain : Shilla Whiny girl..
Sh_iLLa : Rain.. Stop please… :(
Rain : Okay.. Okay.. Haha peace :D
Sh_iLLa : :(
Rain : Don’t be sulky…
Sh_iLLa : :(
Rain : Sorry.. Um, I see that the rain is over, and I must offline now.. Okay?? Bye.. Keep smile Shilla, I just joking just now.. :)

Rain is offline

Dia selalu pergi bersama dengan perginya hujan. Selama sebulan mengenalnya, tak pernah dia datang sebelum hujan datang juga, dan dia selalu pergi di saat hujan pergi. Sama dengan nama yang digunakannya ‘Rain’=’hujan’. Hujan yang indah, Hujan yang selalu membuatku tersenyum dengan candaannya. Hujan yang kunantikan kedatangannya.

Ku tutup layar Laptopku.. Hari sudah sangat gelap, bahkan diluar tak ada bintang karena hujan. Dan dengan cepat, kumatikan sakelar lampu kamar. Bintang buatan yang ada langit-langit kamarku mulai berkelip, ku hidupkan tape di samping Laptop, dan menyanandungkan kecil lagu yang terdengar di radio. Lagu indah penghantar tidur.

***

“Illa.... ke kantin yuk??” ajak salah satu sahabatku. Ify namanya, salah satu gadis popular di Sekolah ini, Ratu gossip, adalah julukannya, karena Dia adalah salah satu selebrita sekolah yang tak pernah redup namanya, dari gossip miring sampai gossip yang nyata selalu didapatkan setiap hari. Entah paparazzi mana yang membuntutinya.

“Duluan aja ya Fy?? Aku masih mau nyelesain nyatet yang itu..” jawabku pada Ify sambil menunjuk white board yang penuh tulisan kurus, milikku guru Sejarahku.

“Udah, berlima aja ke kantinnya. Gak ada dia juga gak papa!!” Agni muncul dihadapanku dengan wajah datarnya. Dia.. Agni, salah satu gadis cantik, yang dibilang sangat judes ini, merupakan salah satu sahabatku juga. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini sifatnya berubah padaku.

“Agni….” Sivia mendesah pelan, sambil menyikut lengannya. Dan diberikan tatapan datar oleh pemilik lengan itu.

“Um,, ya udah kalian ke kantin aja duluan sih.. Aku kan udah bilang..” ujarku melerai, sambil menyisipkan senyum tipis di sela ucapanku. Ify mengangguk diikuti Sivia. Acha yang sedari tadi diam juga mengangguk. Begitupun Zeva, dia ikut mengangguk. Tapi jangan harapkan itu terjadi pada Agni, dia hanya diam, dan segera pergi dari hadapanku. Seolah jijik dengan aku sekarang. Belum redakah marahnya padaku??

***

Aku melintas di depan kantin yang penuh sesak itu. Mereka berlima, tertawa bersama, tawa yang terlihat sangat renyah. Dan tentu membuatku iri. Iri dengan kebersamaan mereka.

Seseorang menepuk bahuku pelan. Zahra, gadis berbehel dengan rambut panjang itu datang dengan senyum yang mengembang.

“Biologi, kelompokku kurang 1 orang. Kamu mau gabung??” tanyanya ramah. Aku sepertinya tak punya pilihan lain, daripada aku harus terkena getah amarah Bu Lidya, yang terkenal galak itu. Aku harus menerimanya.

Ku anggukan kepalaku, Zahra tersenyum dan menepuk bahuku.

“Mau ikut gabung sama aku, Dea, Keke, Oik makan disana??” tawarnya sembari menunjuk pojok meja kantin. Aku menggeleng pelan, dan mencoba mencari alasan untuk menolaknya.

“Aku gabung sama temen-temen aku disana aja deh” kataku. Zahra mengangguk dan melangkah pergi dari hadapanku.

Aku melangkah pelan menghampiri meja no 6, yang selalu kami gunakan jika istirahat. Tapi, aku menangkap tatapan menghina dari Agni mengarah padaku. Dia masih marah rupanya. Maka harus kuputuskan, tidak bergabung bersama mereka. Perpus mungkin tempat yang lebih baik. Cuaca mendung, mungkin akan segera mendatangkan hujan, dan ‘dia’ mungkin akan segera muncul.


To be continue…



Oleh : DiNa Si Pencil

0 komentar:

Posting Komentar

 

Great Morning ©  Copyright by Short Story Lesson "Magazine" | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks