Kamis, 28 April 2011

Sang Hujan -Part 2-


***

Rintik-rintik gerimis kembali mengguyur kotaku. Tapi sayang, aku tak dapat menikmati dingin yang menyenangkan itu. Mama menepati janjinya. Kak Gabriel siang ini menjemputku, dan harus ku akui ini adalah bencana besar dalam hidupku. Yah, duduk disamping kursi pengemudi adalah hal yang paling tak menyenangkan, apalagi sang pengemudi itu adalah kak Gabriel, pria perfectionist yang entah mengapa sering menghakimiku. Sebelas dua belas lah dengan Mama.

“Gimana prestasi belajar kamu disekolah??” tanyanya tanpa melirikku, dia sangat memperhatikan jalanan, mungkin karena jalanan licin akibat hujan.

“Seperti biasa” jawabku singkat, malas sekali aku bertukar pikiran dengannya. Apalagi membahas soal pelajaran, yang aku yakin nantinya akan dianggap siswa bodoh olehnya.

“Maksud kamu??” tanya lagi, aku tak menghiraukannya sibuk menghitung titik air hujan yang bertambah setiap detik di kaca sampingku.

“Ini yang membuat Mama, selalu marah padamu Illa. Kamu sama sekali tak pernah menghargai seseorang meski dia adalah orang yang lebih tua darimu” ujar kak Gabriel dengan tenang. Aku masih tak menggubrisnya, biarkan saja dia menyalahkanku. Toh, orang-orang dirumah tak ada yang mengerti keadaanku. Hanya Tante Angel yang bisa mengerti keadaanku, yah dia bisa dibilang malaikat penolongku.

“Sampai kapan kamu akan seperti  ini?“ bentaknya kemudian. Jujur, baru kali ini aku dibentak olehnya, mungkin juga karena kami jarang bersama jadi tak ada sedikit pun kesempatan untuknya membentakku.

“Cukup kak. Aku gak mau nambah masalah aku. Daripada kakak ngurusin hidup aku, mending kakak urusin hidup kakak sendiri” telakku pada kak Gabriel, dia mendengus kesal. Lalu, tak terjadi percakapan apa pun diantara kami berdua lagi.

Kak Gabriel, membelokkan mobilnya ke arah Utara. Padahal jika sudah di pertigaan seperti ini untuk melanjutkan perjalanan ke rumah kami, kami harus berbelok ke arah selatan. Hah.. membuang-buang waktu saja. Kemana tujuan kak Gabriel sebenarnya?

“Kita mau kemana kak??” tanyaku padanya. Tapi alhasil dia tak menjawab, malah memberhentikan mobilnya di depan sebuah minimarket. Oh, ini tujuan kak Gabriel rupanya.

“Kamu tunggu disini aja. Gak usah ikut turun” pesannya sebelum segera keluar dari mobil. Aku mengangguk singkat, sambil mengedarkan pandanganku. Berharap bertemu seseorang yang rumahnya tak jauh dari sini. Yah, Alvin.

Aku mendapati sesosok orang yang ku kenal, sedang duduk di samping kursi pengemudi sama sepertiku. Kursi pengemudi disampingnya rupanya juga kosong. Headset terjuntai dari rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Matanya sibuk menulusuri novel yang dipegangnya, tampaknya dia sedang serius. Ingin menyapanya, tapi tak enak juga jika sampai menganggu konsentrasinya.

Aku menatap lekat rumah berpagar besi hitam itu, tampaknya tak ada tanda-tanda bahwa Alvin akan keluar dari rumah. Lagi pula, jika aku bertemu dengannya maka yang ada tentu ejekan-ejekan kecil, yang berbuntut pada pertengkaran. Sudahlah.

Sepuluh menit berlalu dengan lambat, kak Gabriel belum juga keluar dari minimarket itu. Lebih baik kususul dia, sekalian aku ingin membeli beberapa snack.

Saat hendak membuka pintu mobil, aku melihat kak Gabriel akan membuka pintu minimarket itu. Dibelakangnya berdiri sosok pemuda yang kelihatannya sebaya dengan kak Gabriel. Aku meneliti pemuda itu lebih lama, karena aku yakin aku pernah melihat dia sebelumnya. Tapi dimana?

Tiba-tiba Zahra, gadis yang tadi ada didalam mobil sampingku, dengan wajah berbinar menghampiri pemuda tersebut. Yang sekarang aku yakini adalah kakaknya.

“LO TUH EMANG SELALU NYARI MASALAH YA??” Kak Gabriel berteriak tepat di hadapan pemuda –yang kuduga adalah kakak Zahra– itu. Aku tertegun di ambang pintu mobil, saat itu juga. Keringat dingin mulai menjalariku. Ada apa ini?

Zahra, terdiam ditempatnya. Sedikit ketakutan tampaknya, sedangkan pemuda itu tersenyum tenang. Seolah-olah kejadian barusan hanya akting belaka yang dilakukan kakakku.

“Santai dong bro.. Ini tempat umum.. Gak malu lo, teriak-teriak kaya orang gila gini?” tanyanya santai. Kak  Gabriel terlihat geram, dan mulai mengepalkan tangannya. Perasaanku tak enak, aku harus membawa kak Gabriel cepat pergi dari sana.

Aku, segera berlari menghampiri mereka berdua. Tak ingin terjadi apa-apa. Zahra, menatapku bingung saat aku sudah berada tepat disamping kak Gabriel. Pemuda itu –yang entah siapa, tapi mungkin adalah kakak Zahra– menatapku sambil memberikan senyum tipis.

“Kak.. Udah mulai sore, aku ada banyak PR. Cepet pulang yuk..” ajakku sambil menarik pergelangan tangannya. Tapi kak Gabriel tak beranjak ditempatnya. Dari matanya aku melihat kemarahan yang memuncak.

“Urusan kita belom selesai” katanya cepat sambil mengempaskan tanganku dari lengannya, dan beranjak menuju mobil.

“Duluan ya Ra..” pamitku pada Zahra, dia mengangguk dan tersenyum tipis. Aku membalas senyumannya, sambil berjalan ke arah mobil.

“Tin.. Tin.. Tin..” kak Gabriel tak hentinya membunyikan klakson mobilnya. Ada apa sebenarnya? Mereka bermusuhan kah?

***

Aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang keluarga. kak Gabriel melempar bungkusan yang dibawanya tadi dari minimarket di atas meja, rupanya dia juga membeli kaleng minuman yang berakibat terjadi sedikit kegaduhan di ruangan ini. Mama, yang ternyata berada di dapur datang dengan celemek yang sedikit kotor, sambil menaikkan satu alisnya.

“Ada apa?” tanyanya menyelidik, kak Gabriel bungkam. Enggan menceritakan perkara di minimarket yang aku sendiri tak tahu asal usulnya.

“Gab?? Illa??” Mama kembali angkat suara karena tak ada sahutan dari kami. Kemudian dia menatapku seakan bertanya apa yang terjadi. Dengan penuh keberanian, aku mengedikkan bahu. Karena aku memang tak tahu. Saat itu juga Mama menatap kak Gabriel, yang jelas pada wajahnya menyisakan kekesalan yang mendalam.

“Illa, cepat kamu naik ke atas dan ganti baju” perintah Mama, aku segera mengambil tas yang ku letakkan di sofa sampingku, dan segera berjalan menuju tangga. Aku mengerti, sepertinya Mama ingin berbicara berdua dengan kak Gabriel. Ah, beruntungnya kak Gabriel. Mama sangat mengkhawatirkannya sampai-sampai ada saat dimana mereka selalu bertukar pikiran. Sedangkan aku? Kuharap suatu saat nanti, akan ada kesempatan seperti itu.

***

“Kata orang, hidup itu tak akan bermakna jika berjalan lancar. Karena kerikil-kerikil masalah lah yang menjadikan kehidupan kita akan lebih bermakna, karena hal itu dapat membuat kita lebih dapat berpikir dewasa. Tapi.. pertanyaan aku kali ini, apakah dengan terlalu banyak masalah itu kita tetap akan menjadi lebih dewasa? Bukan kah, dengan terlalu banyaknya ‘pemasalahan’ akan berakibat fatal? Sehingga orang-orang yang tak sanggup menanggung permasalahan tersebut memilih jalan pintas. Dengan itu bunuh diri pun tak bisa dihindari. Penyebab bunuh diri tak lain adalah masalah yang datang beruntun. So, bagi para remaja kita saat ini jangan cepat mengambil ‘jalan pintas’ itu. Terus juga, jangan memperbanyak masalah dikehidupan kalian juga ya..” Aku mengutip beberapa kalimat yang baru kubaca dari sebuah majalah. Kalimat yang menurutku sangat memotifasi bagi remaja Indonesia yang mungkin beberapa persen adalah remaja yang kurang beruntung. Termasuk aku.

Aku membuka kaca jendela kamarku, hujan sudah reda dari beberapa menit yang lalu. Tapi, jalanan di depan rumahku masih saja basah. Awan dilangit yang tadinya mendung juga sudah berubah menjadi gumpalan awan putih. Jujur aku menyesal, tadi Rain sempat menyapaku di YM. Tapi karena aku baru saja pulang, aku tak sempat membalas sapaan renyah Rain seperti biasa. Aku berharap hujan turun lagi..

“Illa…” sebuah suara mengagetkanku dari lamunan tentang Rain yang sejak tadi memenuhi otakku.

“Masuk aja enggak dikunci kok” ujarku, yang sudah tahu siapa pemilik suara itu. Yah, dia Acha. Salah satu sahabatku, yang jika Sabtu sore tiba akan segera singgah dikamarku, entah untuk sekedar mengobrol atau juga curhat.

“Hum.. Gila Bete banget sumpah La..” dengusnya kecil sembari menghampiriku.

“Hus.. Iya aku tau.. Tapi jangan pake sumpah-sumpah segala ah.. Jangan main-main dengan sumpah, ntar kualat loh..” nasihatku entah untuk yang keberapa kali. Acha menanggapinya dengan memamerkan deretan gigi putihnya.

“Iya.. Iya sorry.. Tapi beneran hari ini aku bete.. Dan, kamu pasti tau kan penyebabnya?” tanyanya kemudian. Lalu dengan seenaknya duduk di sofa sampingku.

“Olivia pasti kan??” tebakku sembarangan. Karena selama menjalin persahabatan dengannya,, dari setiap ceritanya padaku. Oliv –adik semata wayangnya– adalah satu-satunya selalu penyebab kekesalan Acha.

“Nah iya bener. Tau gak.. Dari seminggu lalu tuh, aku udah pesen sama dia.. Kalo hari ini jam 3, aku yang nguasain TV, tau kan apa penyebabnya??” lagi-lagi dia menganggatungkan ceritanya. Bertanya pertanyaan konyol, yang jawaban Cuma ada satu.

“Raynald Prasetya?” tebakku asal –lagi– Tapi, seperti tebakan pertamaku. Aku yakin, tebakan yang satu ini pasti akan akurat.

“Yup. My Prince.. Raynald Prasetya, hari ini tampil di acara reality show. Tapi Oliv, ngancurin semuanya.. Masa dia nonton film Aladdin yang notabenebenya, dia punya VCDnnya. Apaan tuh?? Gak adil kan?? Mana Mama belain Oliv.. Huhu.. Bete banget La..” lanjutnya kemudian. Ya ampun, sahabatku yang satu ini, bisa dibilang terobsesi dengan drummer pendatang baru yang sebaya dengan kami. Raynald Prasetya, dengan  rambut gondrong –yang mungkin jadi ciri khasnya– dia telah membuat sahabatku ini sangat tergila-gila dengan kehadirannya.

“Sabar deh Cha.. Kan masih banyak, event-event lain yang guest starnya Raynald..” hiburku. Acha mengangguk pelan, namun langsung memasang wajah cemberut.

“Iya sih.. Tapi masa aku yang seorang admin Ray Ready pusat gak nonton.. Apa kata dunia??” hardiknya, aku  menggeleng pelan. Lalu aku melangkan pelan menuju arah ranjang dan mengambil bantal kecil. Langsung ku lemparkan saja bantal itu tepat ke arah Acha.

“Kata dunia.. Itu sah-sah aja. Lagian mereka toh gak bakal tau kalo kamu gak nonton acara itu” tambahku sambil membuka pintu kamar, hendak ke dapur. Mengambil beberapa snack dan minuman untuk tamuku ini.

“Ah Illa Sakit tau.. Eh, bentar.. Ntar malem ikutan kan?? KANVAS bakal nongkrong di tempat biasa” ujarnya. Aku menghentikan langkahku lalu menoleh padanya.

“Untuk kali ini, aku libur dulu ya?” jawabku sambil memberikan senyum simpul. Acha kembali cemberut. Lalu bergumam pelan.

“Yah.. Ify gak ikut, masa kamu juga gak ikut?? Gak seru ah.. Kalo kamu gak ikut karena ‘Agni’ sih.. Um, sebaiknya kamu ikut. Mungkin dengan ini kalian bisa baikan..” Aku menggelengkan kepala pelan lalu kembali berkata.

“Aku butuh sendirian dulu Cha.. Siapa tau aku dapat wangsit kalo aku sendirian” candaku padanya. Acha tersenyum mendengarnya. Aku pun kembali ke niat awalku, mengambil snack dan minuman.

***

Aku tersenyum senang saat melihat mobil sedan hitam itu memasuki halaman rumahku. Aku tahu benar siapa pengemudinya. Bulir-bulir air mata mulai berkerumun saat dia menghentikan laju mobilnya tepat di depan teras rumah. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan cepat aku berlari menuju lantai bawah. Dan ku harap, akulah orang pertama yang akan membukakan pintu kayu berpelitur itu.

Saat berada diambang pintu, aku mulai menguntaikan doa. Agar harapanku tak sia-sia, belum ada tanda-tanda seseorang memencet bel rumah. Dengan perasaan yang bergejolak, aku memutuskan untuk segera membukanya.

“Papa..” teriakku saat berhasil membuka pintu tersebut. Papa, berada tepat di depanku. Tersenyum penuh bahagia. Beliau menghampiriku, lalu memelukku hangat. Sungguh tenang rasanya ada dalam dekapannya.

“Papa kok gak bilang sama Illa kalo pulang hari ini?” tanyaku sambil mengusap tetes air mata yang mulai berjatuhan. Beliau juga turut mengusap tetes demi tetes air mata, yang tak mau berhenti.

Dia melepaskan pelukannya lalu, berbisik sangat pelan padaku, mungkin dia tak ingin ada yang mendengarnya selain aku. Mungkin dia juga tak ingin kumpulan udara yang kini ada disekitar kami, mendengarnya. Bahkan tanaman-tanaman hias milik Mama mendengernya pula.

“Papa sangat sayang Illa.. Papa janji gak akan pernah buat Illa kecewa lagi, makanya Papa datang”

Aku tersenyum mendengarnya. Beliau mengecup keningku pelan. Lalu, mulai membisikkan sebuah kalimat lagi.

“Jangan bilang siapa-siapa tentang kedatangan Papa ini ya? Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua” Aku tertegun mendengarnya. Papa menatapku, seolah sedang meminta jawaban. Aku mengangguk pelan. Beliau tersenyum, dan beranjak pergi. Masuk kembali ke dalam mobilnya, aku masih terdiam membisu mencerna maksud perkataan yang diucapkannya.

Papa melambai padaku, dan melajukan mobilnya cepat. Secepat angin, hingga tak terlihat jejaknya. Aku kembali meneteskan air mata.

“PAPA…” teriakku, berharap dengan teriakan kepahitan ini, Papa akan kembali dan menghapus air mataku. Memelukku kembali, agar kehangatan yang kubutuhkan kembali terpenuhi.

Aku menutup album foto yang ada ditanganku, bersama dengan menguapnya ingatanku tentang seseorang yang sangat ku nantikan kehadirannya. Yah Papa.. janjinya dahulu untuk tidak akan mengecewakanku tak pernah ditepatinya lagi. Oh Tuhan.. dimana sekarang keberadaan Papaku? Apakah dia baik-baik saja?

“Illa.. kamu ganti baju gih” Tante Angel tiba-tiba duduk disampingku, mengusap cover album yang isinya kenangan tentang beberapa tahun lalu, saat bisnis Papa tak sepesat sekarang. Saat bisnis Papa masih berkisar di kotaku dan kota tetangga terdekat. Kami biasa menghabiskan malam minggu dengan pergi makan malam di luar rumah.

“Eh– buat apa Tante??” Tante Angel tersenyum mendengar pertanyaanku. Dia mengusap puncak kepalaku pelan. Lalu berdiri dari duduknya.

“Melestarikan kebiasaan yang dulu pernah tercipta di keluarga kita” ujarnya, aku tersenyum. Makan malam bersamakah? Mungkin itu maksudnya. Melestarikan kebiasaan yang sudah sangat jarang sejak 2 tahun lalu.

***

Aku mengenakan celana jeans hitam panjang, dengan balutan blouse hijau toska dan cardigan putih. Membiarkan rambut terurai, sembari menyematkan jepit kecil berwarna hijau toska. Aku mematutkan diri di cermin, tak terlalu berlebihan. Cukup simple.

Aku menuruni tangga, sembari melirik jam tanganku. Hampir jam 7 rupanya. Dibawah, sudah siap kak Gabriel yang nampak sibuk dengan hand phone-nya. Tante Angel juga sudah siap, dia membolak-balik majalah dihadapannya, nampak sekali jika ia sedang bingung.

Aku menghampirinya, dan duduk disampingnya. Lalu Mama datang dari arah kamarnya, dengan wajah berbinar.

“Angel, kamu yakin Mas Aris gak akan marah?” tanya Mama pada Tante Angel. Tante Angel tersenyum lalu menatap Mama.

“Mbak kaya yang gak pernah kenal sama Mas Aris, masa sebagai istrinya mbak gak tau watak Mas Aris? Dia gak akan marah hanya karena istrinya yang cantik dan anak-anaknya ini, diajak makan malem sama adik bungsunya mbak” Mama tersipu mendengarnya, lalu menatap kak Gabriel.

“Gab.. Sudah siapin mobil?” tanyanya lembut. Kak Gabriel terkesiap, lalu menaruh hapenya kedalam kantong jaket hitamnya.

“Bukannya dijemput sama kak– ups, Om Riko?” tanya balik kak Gabriel kepada Mama. Mama menatap tante Angel.

“Bener Angel??” Tante Angel tersenyum dan mengangguk. Lalu tak berapa lama terdengar klakson mobil dari arah luar.

“Yuk.. itu pasti Riko” ajak Tante Angel, aku tersenyum, lalu membuka pintu rumah dan menaiki mobil milik Om Riko yang merupakan tunangan dari Tante Angel.

***

Perasaanku bercampur aduk. Resah, Kecewa, dan Penasaran. Disana, di meja paling ujung dekat dengan taman duduk dua sejoli yang sangat aku kenal. Ify dan Alvin.

Ify tampil sangat anggun, dengan balutan gaun selutut berwarna ungu tua, dan Alvin dengan kemeja garis-garis hitam terlihat Nampak tampan. Jujur aku iri. Jika ditanya alasannya adalah, karena aku sebenarnya menyimpan rasa pada Alvin.

“Illa.. Kamu kenapa??” tanya Tante Angel, yang sepertinya menangkap raut wajahku yang tak nyaman. Aku diam tak menjawab, hanya tersenyum tipis dan mengaduk-aduk cappuccino dihadapanku.

Entah darimana datangnya rasa yang amat menyesakkan ini, saat melihat tawa renyah mereka, mata Alvin yang begitu berbinar saat ada disamping Ify, dan Ify yang nampak tertawa lepas, tanpa ada paksaan.

‘Alvin.. Ify..’ aku membatin nama mereka berdua. Nama yang telah mengisi hari-hariku. Nama yang telah membuatku nyaman dengan duniaku. Alvin, teman kecilku yang entah mengapa kami selalu satu sekolah sejak TK. Dan, dia juga adalah orang pertama yang membuatku mengenal apa itu cinta. Ify? Tentu sahabatku, salah satu anggota KANVAS, yang dengan motto usulannya membuatku lebih meghargai apa itu PERSAHABATAN.

“Aku permisi mau cuci tangan dulu” pamitku pada mereka yang kini tengah asyik mengobrol. Mereka mengangguk tanpa sedikit pun menoleh padaku, kecuali tante Angel yang dari raut wajahnya tampak bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku.

***

Mungkin inilah yang orang maksud sebagai Patah hati. Aku memang belum tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di café ini. Tapi dari kedekatan yang aku lihat, aku sangat yakin. Mereka memiliki hubungan yang aku sendiri hanya bisa berharap itu tak terjadi.

Buliran air mata, kembali merembes. Meski sudah ku coba tahan keperihan yang sejak tadi memenuhi rongga-rongga tubuhku, namun itu sia-sia. Perih, aku tak tahan. Mungkin aku egois, tapi salahkan jika aku mengharapkan Alvin tidak bersama seorang gadis selain aku? Dan kenapa gadis itu harus Ify? Ify yang notabenenya adalah sahabatku terdekatku. Sahabat yang selama ini paling sering bersama denganku.

“Illa??” suara itu mengagetkanku, sang pemilik tepat berada disampingku, aku meliriknya dari cermin yang ada di toilet. Dia nampak heran dengan keadaanku yang terlihat sekali kacau. Aku mengambil lebih banyak tissue dan menghampus rembebesan air mata yang jatuh tanpa permisi itu.

“Kamu gak pa pa??” tanyanya sambil membelai pundakku. Aku tersenyum, dan menatapnya sebentar.

“Cuma kelilipan kok, gak kenapa-kenapa” jawabku berbohong. Sebenarnya berada dihadapan Ify kali ini, aku ingin sekali menangis lebih kencang. Tapi dengan segenap kekuatan yang ku miliki aku mencoba menahannya.

“Aku gak percaya” sanggahnya cepat. Ya, tuhan.. sebegitu kelihatannya kah kebohonganku padanya? Apakah aku memang tak pandai berbohong, hingga Ify pun mengetahui kebohonganku itu. Aku diam, menundukkan kepala.

“Aku gak maksa kok, aku bakal nunggu kamu sampe siap buat cerita” katanya pelan. Ada sedikit kelegaan menyusup begitu saja. Karena itu berarti aku tidak harus berbohong, dan diketahui lagi.

“Kamu kesini sama siapa??” tanyaku kemudian. Mungkin ini adalah pertanyaan terbodohku. Pertanyaan yang nantinya malah akan membuatku lebih sakit lagi.

“Alvin.. Um– barusan dia nembak aku” katanya dengan berbinar-binar, aku tertohok merasa terpojokkan. Karena ketakutanku ternyata telah menjadi kenyataan. Alvin, mencintai Ify.

“Aku nerima dia. Jujur, beberapa minggu terakhir aku memang deket sama dia. Karena aku ngerasa nyaman, jadi aku terima dia buat jadi pacar aku. Pacar pertamaku. Menurut kamu gimana? Pilihanku bener?” lanjut Ify. Aku mengangkat kepala, dan mengangguk meng-iyakan. Lalu mengulurkan tanganku pada Ify, yang langsung disambutnya dengan cepat.

“Selamat ya Fy.. Longlast sama Alvin” ucapku. Ify tersenyum, lalu memelukku.

“Makasih La.. Kamu memang sahabat terbaikku” bisiknya. Aku tersenyum getir, memejamkan mata berharap ini hanya mimpi buruk yang terjadi sesaat. Dan saat aku bangun, Ify dan Alvin tak pernah menjalin hubungan. Aku memang egois..


To be continue…


0 komentar:

Posting Komentar

 

Great Morning ©  Copyright by Short Story Lesson "Magazine" | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks